Mengupas Buku Biografi B.J. Habibie: Dari Parepare, Jerman, hingga Istana Negara

Kamis 21-08-2025,13:33 WIB
Reporter : Rohaniyati
Editor : Heti Palestina Yunani

Tanpa putus asa, beliau tetap bertekad  mendapatkan pendidikan ke Jerman dengan keteguhan janji seorang istri yang telah berikrar dihadapan jasad suaminya, “Saya akan menjadikan anak-anakmu semua, mulai dari yang tertua sampai yang dalam kandungan ini, menjadi manusia-manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa dengan keringat saya sendiri.

BACA JUGA: Resensi Haruki Murakami - Kafka on The Shore dan Kisah di Timur Jawa

Pergilah kamu dengan tenang. Saya akan melanjutkan perjuanganmu”. Bergetar hati ini membayangkan ikrar sang ibunda. Doa seorang ibu takkan mampu Tuhan tolak.

Orang tua beliau sangat memahami bakat kecerdasan yang dimilikinya, dari tujuh bersaudara beliaulah yang sejak kecil sangat tertarik membaca semua buku mengenai ilmu pasti dan nilai-nilai pada bidang itu selalu terbaik.

Maka tak heran, tekat beliau untuk menempuh pendidikan di Jerman mendapatkan dukungan dari keluarga. Meski di tahun-tahun berikutnya tak semulus dalam rencana.

BACA JUGA: Resensi Film Who Am I (2014): Bjorka dari Jerman

Perjalanan pendidikan di Jerman tanpa beasiswa ternyata dipandang sebelah mata oleh sebagian besar pelajar Indonesia yang kala itu mendapat beasiswa.

Beliau  dianggap sebagai mahasiswa yang tak pintar. Hingga akhirnya, tanpa banyak bicara cukup beri bukti nyata, kawan-kawannya mengerti bahwa tak semudah itu mengungguli kecerdasan seorang Habibie.

Awal pertemuan dan perjodohan dengan Hasri Ainun menjadi kisah yang tidak terlalu ditonjolkan dalam buku ini, hanya tiga babak dari tujuh puluh enam. Setelah itu, banyak membahas mengenai perjalanan Habibie merintis karirnya di Jerman dalam kedirgantaraan.

BACA JUGA: Merdeka Pendidikan: Mimpi Panjang yang Kian Menjelma

Juga membahas asal muasal beliau mendapat julukan ‘Mr.Crack’ karena teori yang ditemukannya untuk menyelesakan problem retakan (crack) pada pesawat terbang. Hingga beliau pun dipanggil oleh Presiden RI kala itu, Soeharto, karena sudah saatnya mempersiapkan Indonesia Lepas Landas.

Hal yang menarik bagi saya, ternyata Presiden ke-2 RI ini sudah cukup mengenal BJ Habibie sejak remaja yang  diceritakan pada babak Tetangga Kami : Pak Harto.

Bahkan sebelum Habibie direkrut sebagai Menteri Negara Riset & Teknologi, beliau menelusuri semua rekam jejaknya mulai sejarah keluarga hingga pekerjaan terkini, bertumpuk-tumpuk berkasnya.

BACA JUGA: Nilai-Nilai Pancasila dan 80 Tahun Indonesia Merdeka

Gerakan-gerakan organisasi kebangsaan para pelajar Indonesia di luar negeri yang dipimpin Habibie pun tak luput dari perhatiannya. Oleh karenanya, kecintaan Habibie terhadap Bangsa Indonesia tidak perlu diragukan lagi.

Kembali ke Indonesia dan mengabdi, menjadi tujuan Habibie mengenyam pendidikan di Jerman. Babak Bank Dunia Milik Siapa Sih? menjawab mengapa pengembangan teknologi strategis Indonesia mengalami kemunduran.

Kategori :