Bung Karno menulis Indonesia Menggugat dengan gagasan mendalam yang lahir dari proses perenungan panjang. Kini nasionalisme cukup diwakili emoji bendera atau tombol ”share”. Simbol-simbol kebangsaan diperlakukan seperti komoditas gaya hidup.
Perjalanan dari pena ke postingan adalah kisah perubahan wajah nasionalisme: dari ruang reflektif yang dibangun dengan kata ke lautan simbol yang mengalir tanpa henti di layar.
Tugas kita adalah menjembatani keduanya, memastikan setiap tanda punya pijakan pada kenyataan. Sebab, tujuan akhirnya tetap sama. Yakni, mewujudkan Indonesia yang hidup dan nyata, bukan sekadar Indonesia maya.
Bahaya terbesar bukanlah hilangnya realitas, melainkan hilangnya kesadaran bahwa realitas itu telah hilang. (*)
*) Yusuf Ernawan adalah dosen antropologi, FISIP, Unair.