Madilog dan Tahapan Rostow, Membangun “Akal Sehat” Indonesia

Rabu 15-10-2025,14:11 WIB
Oleh: Achmad R.F dan Probo Darono Y

Di era disrupsi teknologi dan krisis iklim global, teori Rostow tampak usang, tetapi semangatnya tetap relevan: pembangunan adalah transisi dari keterbelakangan menuju kematangan. Kini, prasyarat take-off bukan lagi sekadar modal dan infrastruktur, melainkan kecerdasan sosial. Suatu kemampuan bangsa untuk berpikir kritis dan kolektif.

Indonesia tengah menghadapi paradoks ganda. Di satu sisi, optimisme digital: ekonomi tumbuh, bisnis rintisan bermunculan, dan infrastruktur membaik. Di sisi lain, pesimisme sosial antara lain ketimpangan melebar, populisme menguat, dan nalar publik melemah. Kita memiliki gedung pencakar langit, tetapi rentan terhadap hoaks. Kita menguasai teknologi, tetapi gagal mengelola konflik sosial secara rasional.

Di sinilah Madilog menjadi mendesak. Kita memerlukan keberanian berpikir berbasis data, memahami kontradiksi sosial sebagai proses alamiah, dan menegakkan logika dalam kebijakan publik. Tanpa itu, pembangunan hanya menjadi "festival angka" tanpa makna kemanusiaan seperti modernitas semu yang rapuh saat diuji krisis.

Rostow memberi peta jalan ekonomi. Tan Malaka memberi cahaya untuk membaca peta itu. Jika Rostow adalah tubuh pembangunan, maka Madilog adalah jiwanya. Tubuh bisa berdiri tanpa jiwa, tetapi tidak akan pernah hidup. Indonesia telah membangun jalan tol, bandara, dan gedung tinggi. Kini saatnya membangun yang lebih sulit: logika publik, kemampuan berpikir rasional yang merata, dan keberanian menghadapi realitas tanpa ilusi.

Karena kemajuan sejati tidak ditandai gedung yang menjulang, tetapi oleh pikiran yang tercerahkan. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang merdeka pikirannya. Itulah warisan Tan Malaka yang harus kita dapat wujudkan pada hari ini. (*)

Kategori :