Gim itu juga memperkenalkan elemen semi-parkour. Membuat karakter utamanya sangat akrobatik.
Acts of Blood mengisahkan Hendra, seorang mahasiswa hukum yang berubah menjadi vigilante. Ia bergerak lincah melewati lorong-lorong kota distopia Bandung.
BACA JUGA:Pencipta SBMM Bantah Teori Konspirasi di Call of Duty: Black Ops 7
BACA JUGA:Dan Houser, Penulis Game Red Dead Redemption Ungkap Kegelisahan Industri Game di Era AI
Eksil Team menekankan fluiditas sebagai identitas gameplay: melompati pagar, menendang pintu, memanjat permukaan. Semuanya mengalir sebagai bagian dari pertarungan. Pada November 2024, versi demo dirilis di Steam dan langsung viral.
Cuplikan aksi tangan kosong diselingi tembakan dan eksekusi brutal. Itu membuat pemain global berdecak kagum. Game tersebut akan dirilis sekitar pertengah tahun 2026.
Sementara itu Agni: Village of Calamity dari studio lokal Separuh Interactive menempuh jalur berbeda.
Jika Acts of Bloods adalah gim aksi akrobatik, Agni berjalan pelan sembari menelusuri desa kecil yang suram. Gim itu mengambil inspirasi dari horor PS1 klasik.
BACA JUGA:Cara Membuat Edible Plastic dari Tapioka ala Mahasiswa UK Petra, Bisa Kurangi Sampah Plastik
BACA JUGA:Goat Simulator, Game Simulator Menjadi Kambing Rusuh di Dunia
Agni: Village of Calamity gim horor nuansa klasik dengan kisah lokal yang otentik. --vgidn
Adegan-adegannya dibuat dengan gaya kamera statis, pencahayaan dingin, juga suara atmosferik.
Namun, ada pembaruan yang membuatnya terasa relevan untuk generasi sekarang. Yakni mekanik semi-TPS, QTE yang presisi, serta interaksi lingkungan yang lebih modern.
Lingkungan desa terpencil yang penuh misteri menjadi panggung narasi. Trailer terbarunya rilis pada November 2025.
Latar musik dalam trailer itu menggunakan lagu rakyat "Nina Bobo". Menciptakan kontras mengerikan yang memancing jutaan penonton.
BACA JUGA:Deretan Cheat Sheet dan Sumber Daya Pihak Ketiga Terbaik untuk Membantu Pemain Arc Raiders