Sosok Tersangka Pembunuh Sekeluarga di Nganjuk: Hati-Hati Love Bombing

Sabtu 29-11-2025,22:40 WIB
Oleh: Djono W. Oesman

Antara lain, rasa harga diri mereka hanya diperkuat melalui subordinasi orang lain, khususnya, pasangan wanita mereka. Pria yang subordinasi adalah pria yang merendahkan wanita. Dengan merendahkan wanita, si pria merasa harga dirinya tinggi.

Munro memberikan ilmu kepada para wanita agar terhindar dari pria dengan ciri-ciri khusus yang berbahaya itu.

Ada dua ciri menonjol. 

Pertama, love bombing. Pria yang saat bertemu calon pasangan wanita, wanitanya dihujani kasih sayang, hadiah, dan perhatian yang sangat besar. Berlebihan. Bombing

Itu bisa menjadi sinyal adanya kekuatan psikologis yang berbahaya yang beroperasi dalam diri si pria. Ia bisa marah meledak-ledak. Seperti halnya luapan cintanya yang menggebu-gebu. 

Pria jenis itu cenderung bergerak cepat dalam hal membangun hubungan asmara. Ia menciptakan pola halus peningkatan kendali. Ia akan mengendalikan pasangannya.

Itu mencakup kontrol yang bersifat memaksa, yakni pihak laki-laki bersikeras untuk mengetahui keberadaan pasangannya, berupaya menghalangi hubungan yang sedang berlangsung dengan keluarga dan teman dekat si wanita, serta menuntut peningkatan waktu eksklusif si wanita kepada si pria.

Jika wanitanya keberatan terhadap hal tersebut, si pria jadi emosional. Diawali perlakuan diam, dilanjut penghinaan yang menyerang harga diri wanitanya. Berkembang jadi pola kekerasan yang meningkat, mungkin menghancurkan perabotan rumah, artefak, dan akhirnya menyerang korban.

Kedua, si pria melakukan gaslighting. Atau, mengontrol sangat ketat pasangannya.

Ben Yagoda dalam karyanya yang berjudul How Old is Gaslighting? (dipublikasi di The Chronicle of Higher Education, 12 Januari 2017) menyatakan, istilah itu berasal dari film Gaslight tahun 1944 dan menjadi populer pada pertengahan tahun 2010-an.

Gaslighting adalah manipulasi seseorang terhadap orang lain, dengan mempertanyakan persepsi mereka terhadap realitas. Caranya, pelaku mengontrol dan selalu menyalah-nyalahkan korban. Akibatnya, lama-lama korban merasa kehilangan logika terhadap realitas.

Contoh sederhana, pelaku selalu mengatakan kepada korban bahwa apa pun yang dilakukan korban selalu salah. Dalam kasus ekstrem, pelaku mempertanyakan kewarasan korban. Akibatnya, korban bingung sendiri, apakah korban memang tidak waras atau pelaku yang selalu menekan psikologis korban?

Jika wanita menghadapi pria bertipe satu dari di antara ciri itu atau kedua ciri tersebut, itu tanda si wanita masuk mode bahaya. Tak lama lagi si wanita bakal masuk perangkap pria yang mengendalikan penuh seluruh hidup wanitanya.

Pada kasus Nganjuk, wartawan dan polisi tidak mendalami psikologis pelaku. Sebab, itu bukan tugas mereka. Itu tugas kriminolog. Namun, berdasar saksi mata bahwa pelaku setiap hari berada di rumah korban, ”kadang nginep juga”. Salah satu tanda love bombing. (*)

 

Kategori :