BACA JUGA:Kelenteng Sam Poo Tay Djien Gelar Ibadah Perayaan Kedatangan Cheng Ho di Asia Tenggara
Dupa bergagang hijau biasanya digunakan oleh keluarga almarhum. Mulai dari upacara kematian pertama sampai tiga tahun masa berkabung.
“Khusus keluarga dari orang yang telah meninggal akan bersembahyang memakai dupa bergagang hijau. Sedangkan para tamu memakai dupa merah,” ungkapnya.
Ada pula dupa berbentuk spiral. Namun, dupa jenis tersebut dalam Konghucu tidak dapat dipakai sebagai sarana peribadatan. Melainkan hanya sebagai pengharum saja.
Dupa spiral yang berukuran besar biasanya digantungkan di ruangan depan kelenteng. Umumnya di badan dupa disematkan nama seseorang berikut harapannya.
BACA JUGA:Memperingati Kelahiran Makco Kwan Im di Kelenteng Ba De Miao Surabaya
BACA JUGA:Series Jejak Naga Utara Jawa (12) : Kelenteng Tua Benteng Budaya
Ada juga dupa tak bergagang. Umat Konghucu menyebutnya tiang siu yo. Dupa tersebut dibakar bagian atas dan bawahnya sekaligus.
Dupa tersebut melambangkan langit (atas) dan bumi (bawah). Proses menancapkan tiang siu yo pada hio lo harus hati-hati. Karena tak bergagang, maka mudah sekali rapuh.
Umat Konghucu di Kelenteng Boen Bio sedang bersembahyang menggunakan dupa.-Julian Romadhon-HARIAN DISWAY
“Tiang siu yo biasanya dipakai untuk upacara besar pengambilan sumpah. Seperti pernikahan yang membutuhkan sumpah kesetiaan atau sumpah jabatan,” tuturnya. Maknanya, pengambilan sumpah tersebut disaksikan oleh langit dan bumi.
Upacara besar lainnya yang menggunakan tiang siu yo adalah ketika memperingati hari lahir dan hari wafatnya Nabi Gong Zi.
BACA JUGA:Kue Bulan di Kelenteng Delapan Kebajikan
BACA JUGA:Begini Kriteria Pemimpin Ideal dalam Pandangan Konghucu
Itulah makna jenis dan cara bersembahyang menggunakan dupa. Tak boleh sembarangan dan tak sekadar wewangian saja.
Dupa adalah sarana untuk fokus. Juga asapnya akan menghantar doa dan harapan seseorang ke langit. Kepada Thian. (*)