Bagi Ammar Bacan, Balai Pemuda tetap merekam kenangan yang jelas—indah, tapi kini terasa perih. Tempat itu bagai Cinderella dengan sepatu kaca di malam pesta: memesona, namun tak lagi bisa disentuh. Bagi para seniman seperti dirinya, ia hanyalah gadis cantik yang kini sulit dijamah. (*)
*) Fauzan Iskandar, Daffa Hilmi Rabbani, dan Aditya Rasyid Wicaksono, mahasiswa kelas Online Journalism A Universitas 17 Agustus 1945.