Di antara semua fenomena itu, kita menyaksikan pola-pola perilaku yang sebenarnya mudah dikenali. Ada pejabat yang tampak sangat bersemangat setiap kali kamera menyala –seolah energi itu tersimpan khusus untuk momen rekaman.
Ada pula yang begitu rajin live streaming sampai kita hampir lupa bahwa live streaming bukan indikator kinerja. Ada juga yang unggahannya rapi dan terkurasi, tetapi urusan serapan anggaran masih perlu dibantu banyak tangan.
Tulisan ini tidak sedang menertawakan mereka. Kita hanya sedang belajar becermin bersama. Bisa jadi kita sendiri pun pernah punya pengalaman serupa dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, kita mungkin lebih sibuk merapikan meja kerja ketika atasan lewat atau mempercantik laporan kinerja ketika tahu akan dibaca banyak orang. Bedanya, meja kerja pejabat ada di ruang digital, tempat jutaan mata bisa lewat dalam satu guliran layar.
Sebuah sindiran kecil muncul dari seorang teman yang pernah berkata, ”di zaman sekarang, kalau kerja tidak difoto, kadang rasanya seperti tidak bekerja.”
Kita tersenyum pelan, bukan karena sinis, melainkan karena mengerti bahwa kehidupan memang bergerak ke arah itu. Ada pergeseran yang tidak sepenuhnya salah, tetapi tetap perlu waspada dan kita sadari bersama.
Refleksi ringan lain datang dari satu persepsi pribadi yang sering muncul di benak saya, ”saat kunjungan kerja, yang paling capek sekarang bukan pejabatnya, melainkan kamerawannya”.
Kalimat itu terasa ringan, tetapi punya napas sosial yang kuat. Itu tidak menyalahkan siapa pun; hanya menggambarkan perasaan saya sebagai penonton yang kadang bingung membedakan mana kerja dan mana pertunjukan.
Di titik itulah kita sadar bahwa budaya pencitraan sebenarnya tidak hanya milik pejabat. Kita semua adalah bagian dari zaman yang mengajarkan cara menata feed sebelum menata isi hidup. Kadang kita ingin terlihat baik sebelum benar-benar menjadi baik.
Bukan karena kita buruk, melainkan karena ruang digital memang mendorong kita ke arah itu. Justru karena itulah refleksi ini terasa penting: agar kita tidak terjebak pada panggung yang kita bangun sendiri.
Saya sendiri sering tersenyum simpul menyadari hal-hal kecil itu. Ketika memilih foto profil WhatsApp, misalnya, saya cenderung mencari yang paling bagus. Atau, ketika melihat asisten rumah tangga yang bekerja di rumah memiliki akun media sosial dengan tampilan yang begitu rapi dan glamor.
Tidak ada yang salah di situ. Namun, momen-momen kecil itu mengingatkan saya bahwa keinginan untuk terlihat baik memang lintas jabatan, lintas kelas, dan sangat manusiawi.
Sampai di sini, kita mungkin perlu sedikit jeda. Kita bertanya pelan: kalau dunia visual ini terus tumbuh, apa yang bisa kita lakukan agar kualitas pelayanan publik tetap optimal dan tidak ikut terhanyut? Ada beberapa kemungkinan kecil yang bisa kita renungkan.
Mungkin di tahun-tahun mendatang, kita bisa mulai membayangkan etika digital pejabat yang lebih jernih. Media sosial tetap bisa dipakai, tetapi dengan tujuan yang lebih sosial daripada personal.
Kalau ada laporan kinerja yang sederhana, terbuka, dan mudah diakses warga, kita semua bisa melihat peta pengabdian tanpa harus menunggu hadirnya drama layar.
Kita juga bisa punya tolok ukur akuntabilitas yang tidak rumit. Sesuatu yang bisa dibaca oleh siapa saja: target yang jelas, capaian yang transparan, dan proses yang tidak perlu disembunyikan. Ukuran seperti itu tidak untuk menyalahkan, tetapi untuk membantu kita berjalan berdampingan sebagai warga dan pelayan publik.