BACA JUGA:Mega Gus Dur
Tapi, kalau membaca perjalan Gus Ipul. Puncak kejayaannya justru saat menjadi
ketum Ansor. Setelah itu, kariernya tidak menonjol di birokrasi, malah terus menurun karena tidak ada karya monumental. Dari anggota DPR RI, Gus Ipul alias Saifullah Yusuf menjadi menteri pembangunan daerah tertinggal pada 2004–2007. Itu di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, ia dicopot di tengah jalan.
Kemudian, ia kembali menjadi menteri sebagai menteri sosial pada 11 September 2024, menggantikan Tri Rismaharini, lanjut mensos zaman Prabowo, yang oleh nitizen dikritik habis karena kurang peka bencana (semoga nasibnya tidak sama dengan zaman SBY).
BACA JUGA:Biden, Gus Dur, dan Prabowo
Saat menjadi wagub Jatim, ia mendampingi Gubernur Soekarwo sepuluh tahun. Karena tidak menonjol, ia gagal jadi gubernur Jatim dan ”melorot” jadi wali kota Pasuruan.
Karena sikap Gus Ipul yang egaliter, grapyak, humble, membuat ia awet di jalur politik dan birokrasi. Namun, perjalan kariernya memang tidak linier , kalau tidak boleh disebut mudah beralih hati.
Tapi, politik adalah kendaraanya, bukan partai politik maksudnya, tapi jalan politik. Termasuk manuver politik saat di muktamar NU di Jombang dan Lampung.
Jalan politik terbawa hingga sekarang, sampai ”virusnya” yang hebat, bisa menular ke orang suci semacam Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Prof Dr Mohammad Nuh, seorang tokoh pendidikan dan mantan menteri, sehingga ikut ”berpolitik” dalam tubuh PBNU.
PEMAIN DAN SUTRADARA
Pada sisi lain, Gus Yahya, mantan jubir Gus Dur sahabat karib Gus Ipul, berseteru berkepanjangan, pasti ada faktor X yang memisahkan keakrabannya.
Sejumlah Gus di Jatim sering tanda tanya soal isu fulus yang banyak beredar di eranya. Juga, kurang mengayomi. Apalagi, sikapnya struktural, formal, dan sangat jauh dari pola kultural sebagai kekuatan NU.
Ibarat drama, Gus Ipul adalah sutradara, Gus Yahya adalah pemain utama. Awalnya ”film” itu indah, sampai muktamar usai, penonton puas. Tapi, Gus Ipul lupa, Gus Yahya sudah menjadi tokoh sentral PBNU, sudah seharusnya ia mandiri dan bukan lagi boleh dikendalikan lagi.
Lama-kelamaan, bahkan pemeran utama beda arah dengan kemauan sutradara. Apalagi, sejak bendahara PBNU Mardani Maming yang terjerat kasus korupsi ditahan KPK. Akibatnya, sutradara mencari ”pemain baru”, Rais Aam KH Miftachul Achyar. Lalu, terjadilah konflik.
Meski ragam musyawarah kiai sepuh digelar, drama kali ini juga belum berakhir. Dua sosok itu masih pegang ego masing-masing, apalagi tatkala posisi Gus Yahya sekarang tampil sebagai sutradara, kendalikan persiapan muktamar.
Gus Yahya mungkin perlu belajar ke almarhum ayahnya yang melakukan pendekatan khas NU. Pendekatan yang sangat berbeda dilakukan oleh KH Cholil Bisri, politikus PPP, saat mengatasi konflik dengan KH Yusuf Hasyim Tebuireng.