Ketika Perseteruan 'Dua Anak' Gus Dur Tak Juga Berakhir

Senin 12-01-2026,07:33 WIB
Oleh: Yusron Aminulloh*

Saat penulis awal jadi wartawan, 1987-1988, menjadi saksi bahwa konflik dan perdebatan Pak Ud dan Kyai Cholil tak henti di media. Sangat tajam dan terasa tidak ada solusi.

Tapi, dengan cara egaliter, KH Cholil Bisri bersedia hadir ke Tebuireng, tidak semata ”menghadap” Pak Ud, tapi juga nyekar dan kirim doa di makam KH Hasyim Asy’ari. Setelah itu, oleh kami, para wartawan, ”giring” masuk ndalem kesepuhan, tempat Pondok Pesantren Tebuireng waktu itu dipimpin KH Yusuf Hasyim. 

Terjadilah pelukan hangat, tanpa banyak kata-kata, kecuali salawat menggema di ruang sakral ndalem Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. 

Besoknya muncul di media nasional rekonsiliasi keduanya. Debat berhenti, rangkulan kiai itu seolah ribuan kalimat yang menggambarkan perdamaian. 

Peristiwa hampir sama terjadi saat Gus Dur dilengserkan dari presiden. Adalah tidak mudah meminta Gus Dur keluar istana. Gus Yahya dan Gus Ipul adalah saksi utama situasi itu. 

Sampai akhirnya bertemu solusi, Gus Dur tidak dipulangkan ke Ciganjur. Tapi, Gus Dur langsung ke AS untuk berobat. Setelah cukup kondusif, Gus Dur pulang ke Ciganjur dari AS, bukan dari istana.

Politik melingkar, lewat tikungan indah semua berjalan dengan kehormatan masing-masing. Coba, dalam konflik PBNU, dicari cara menemukan ”politik melingkar” itu agar kehormatan diperoleh semua pihak. (*)

*) Yusron Aminulloh adalah penulis pendidik, pengusaha, dan wartawan senior.

 

 

Kategori :