SAYA membayangkan betapa pusingnya wali kota Surabaya. Yang ingin menata sistem parkir di kotanya. Upaya yang sejak dulu belum pernah bisa tuntas.
Ada banyak ide yang telah dan hendak diterapkan. Mulai parkir dipegang langsung dinas, ditangani pihak ketiga, hingga gagasan menggunakan parkir nontunai dan parkir langganan.
Namun, semua itu belum berhasil. Selalu ada celah kebocoran. Bahkan, belakangan ide menerapkan digitalisasi parkir di tempat usaha pun menimbulkan keributan.
Apa itu? Parkir Gacoan. Sebelumnya, wali kota berniat mengatasi parkir liar di toko swalayan. Yang sudah dianggap merugikan pelanggan sekaligus tidak menguntungkan pemilik usahanya.
Akar persoalannya ada di tarik-menarik pemilik lahan dengan jukir liar. Sedangkan untuk jalan umum, sumber konfliknya antara pemerintah dan penguasa parkir jalanan. Apalagi, ada ormas yang turut campur tangan.
Rumitnya urusan parkir di Surabaya itu sama dengan peliknya urusan menata pasar tumpah di jalan dan pedagang kaki lima (PKL) pada masa lalu. Pasar tumpah dapat dituntaskan Wali Kota Bambang DH.
Problem PKL dapat dikurangi Wali Kota Tri Rismaharini. Dengan membangun pusat-pusat kuliner untuk PKL. Memang belum tuntas semua. Namun, PKL yang mengambil hak pejalan di trotoar telah banyak berkurang.
BACA JUGA:Pemkot Mulai Pasangi Plang Parkir Digital Untuk Transaksi Cashless di 2026
BACA JUGA:Paguyuban Jukir Surabaya (PJS) Minta Audiensi dengan Pemkot Surabaya Soal Digitalisasi Parkir
Kebetulan saya ikut ambil bagian membantu Wali Kota Bambang D.H. Dalam menyelesaikan pasar tumpah di jalan. Yang sebagian besar melibatkan saudara kita asal Madura di Surabaya. Banyak di antara mereka yang menjadi ”lurah” pasar itu.
Ada dua pendekatan yang digunakan pada masa itu. Penegakan hukum dan komunikasi politik. Dalam hal penegakan hukum, Bambang D.H. jagonya. Soal komunikasi, saya gunakan pendekatan religius dan ilmiah.
Pendekatan religius?
Ya. Sebab, kita tahu, warga Madura di Surabaya dikenal sangat religius. Karena itu, lebih gampang menyosialisasikan program kota dengan cara itu.