Menurut paparan Puji, karya Agus Sunyoto bersifat historis-ideologis. Sedangkan karya Sri Teddy cenderung simbolik-filosofis. Kemudian karya Sujiwo Tejo membongkar struktur narasi epik dalam Ramayana.
"Istilahnya, epos klasik itu dihadirkan dalam teks baru yang tidak hanya mereproduksi. Tapi juga mentransformasi. Tidak sekadar merespons. Tapi banyak hal yang diubah," katanya.
BACA JUGA:BRICS Award 2025 Angkat Sastra Global South: Mesir Jadi Tonggak, Indonesia Kompasnya
BACA JUGA:Film dan Sastra, Sarana Mengajarkan Semangat Kepahlawanan bagi Generasi Muda
Misalnya, dalam ketiga novel, oposisi kebaikan-kejahatan tidak lagi bersifat absolut. Rahwana tidak semata-mata digambarkan sebagai simbol adharma.
Melainkan Rahwana sebagai figur yang memiliki rasionalitas moral, visi politik, dan berbagai pengalaman yang dialaminya terkait ketidakadilan.
Sebaliknya, Rama tidak sepenuhnya ditampilkan sebagai representasi dharma. "Ketiga penulis membongkar logika moral hitam-putih. Lalu menghadirkan etika yang lebih kontekstual dan historis," ungkapnya.
"Jadi, tiga karya itu adalah perwujudan dari praktik hermeneutik dan ideologis. Para penulis menjadikan teks sebagai arena dialog antara tradisi dan modernitas," tambahnya.
BACA JUGA:Simbolisasi Pemuda dalam Sastra
BACA JUGA:Perjalanan Kritikus Sastra Nanda Alifya Rahmah, Peraih Anugerah Sutasoma 2025
Itu pula yang telah dilakukan oleh nenek-moyang Nusantara. "Leluhur kita menghadirkan perspektif baru tentang Ramayana. Sehingga epos tersebut bisa di-Nusantara-kan. Ada beberapa kisah yang disesuaikan dengan sosio-kultural pada masa itu dan semacamnya," ujar ayah empat anak itu.
Dr. Puji Karyanto, SS., M.Hum bersama para penguji disertasi doktoralnya yang digelar di FISIP Unair, 13 Januari 2026.-Puji Karyanto-
Disertasi itu pun mendapat sambutan positif dari para penguji. Keberadaannya dinilai berkontribusi dalam merumuskan kerangka baru.
Yakni terkait reproduksi teks klasik yang mengintegrasikan hermeneutika naratif, kritik ideologis, dan konteks historis secara simultan.
Pun, disertasi itu menempatkan teks klasik tak semata warisan yang statis. Melainkan sebagai arena dialog dinamis antara tradisi, modernitas dan kesadaran sosial.
BACA JUGA:7 Rekomendasi Bacaan Sastra Klasik Indonesia, Sambut Bulan Bahasa dan Sastra