Satu Menit sebelum Iran Berdarah

Jumat 16-01-2026,23:53 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Borromeu Duarte*
Editor : Yusuf Ridho

Tim yang turun kelas berat. Delta Force. Unit hantu CIA ground branch. Ditambah satgas oranye. Kerjanya bersih. Tanpa drama perlawanan. Tahu-tahu Maduro sudah ”pindah rumah”. Dari istana ke sel tahanan AS.

Apa hubungannya dengan Iran?

Sangat erat. Venezuela adalah ”kaki logistik” Iran di belahan bumi barat. Selama bertahun-tahun, Karakas menjadi tempat cuci uang bagi operasi hitam Iran. Ingat kasus Robert M. Sensi? Eks agen CIA yang membelot itu baru saja ditangkap awal Januari. Ia dituduh mencuci uang USD750.000 untuk kartel Jalisco New Generation. Ia juga yang mengatur penjualan senjata kelas berat seperti M16 dan peluncur granat.

Uang haram dari narkoba dan senjata itulah yang sering dipakai untuk membiayai operasi proksi anti-Barat.

Dengan jatuhnya Maduro dan tertangkapnya operator seperti Sensi, jalur logistik keuangan Iran diamputasi. AS sedang memakai strategi pengepungan klasik. Sebelum memukul kepala ularnya di Teheran, mereka potong dulu kaki-kakinya di Venezuela. Suplai dana segar untuk Hizbullah dan operasi rahasia Iran di luar negeri kini macet total.

SELAMAT TAHUN BARU, AGEN! 

Mari kita geser fokus ke medan tempur yang tak kasatmata. Perang informasi.

Mike Pompeo, mantan direktur CIA dan menteri luar negeri era Trump yang pertama. Ia kembali ke panggung dengan gaya koboi. Lewat akun media sosial X, ia menulis pesan yang sangat provokatif.

Ia mengucapkan ”selamat tahun baru”.

Normal? Tidak juga.

Ia mengucapkannya untuk rakyat Iran yang sedang demo di jalanan. Dan, ada bagian paling sarkastik, ternyata ia juga mengucapkannya untuk ”setiap agen dinas rahasia Israel yang berjalan di samping mereka”.

Ini adalah perang psikologis tingkat tinggi. Pompeo ingin menanamkan paranoia di benak rezim Teheran. Ia ingin para Mullah merasa bahwa setiap orang di kerumunan pasar, setiap mahasiswa yang berteriak, bisa jadi adalah agen Israel.

Dan, faktanya, Israel memang tidak tinggal diam.

Akun media sosial berbahasa Farsi yang terafiliasi dengan dinas khusus Israel terang-terangan menjadi pemandu sorak. Mereka memberikan instruksi. Menyemangati. ”Kami bersama kalian,” tulis mereka. Dulu mata-mata bekerja dalam senyap. Haram hukumnya diketahui. Sekarang? Mereka menjadi influencer kerusuhan.

Laporan dari Press TV mengonfirmasi paranoia itu. Pasukan keamanan Iran menangkap seorang pria di tengah kerusuhan Teheran. Pengakuannya mengejutkan. Ia direkrut lewat Instagram. Dilatih secara online. Ia disuruh membeli peralatan, merekam video kerusuhan, dan mengirimkannya ke ”handler” atau pengendali yang duduk nyaman di Jerman.

Ini adalah wajah baru perang spionase. Murah. Massal. Juga mematikan. Anda tidak perlu mengirim James Bond dengan jas rapi. Cukup rekrut pengangguran yang marah lewat DM Instagram, beri mereka sedikit uang kripto, dan Anda punya agen lapangan.

Kategori :