Satu Menit sebelum Iran Berdarah

Jumat 16-01-2026,23:53 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Borromeu Duarte*
Editor : Yusuf Ridho

Ada satu indikator yang tidak pernah bohong. Perhatikan langkah para diplomat.

Kementerian Luar Negeri Prancis di Quai d’Orsay tiba-tiba mengeluarkan perintah darurat. Tarik semua diplomat. Kosongkan kedutaan. Evakuasi warga negara.

Dalam dunia strategis, langkah itu dikenal sebagai fenomena ”kenari di dalam tambang”. Dulu penambang membawa burung kenari ke dalam terowongan. Jika burung itu mati atau pingsan, berarti gas beracun sudah menyebar dan manusia harus segera lari.

Diplomat Prancis adalah burung kenari itu. Dinas intelijen mereka, DGSE, punya kuping paling tajam di bekas wilayah Persia. Jika mereka memutuskan untuk lari, artinya mereka tahu sesuatu yang mengerikan akan terjadi. Mereka mencium bau mesiu dan deru mesin pembunuh.

Mereka tahu bahwa ”perdamaian” yang diteriakkan Trump di media sosial hanyalah ilusi.

SANDIWARA GEDUNG PUTIH

Jangan remehkan insting politik Trump. Ia tahu cara memutarbalikkan situasi.

Setelah membatalkan serangan udara, ia tidak diam. Ia memainkan peran sebagai ”pahlawan kemanusiaan”.

Di akun Truth Social miliknya, Trump mengutip berita dari Fox News. Ia mengeklaim bahwa para demonstran di Iran batal dihukum mati karena peringatan keras darinya.

”Ini kabar baik. Semoga berlanjut!” tulisnya.

Lihat narasi yang ia bangun.

Pertama, ia mengancam akan mengebom.

Kedua, ia membatalkannya di menit akhir.

Ketiga, ia mengeklaim bahwa ancamannya itu sudah cukup untuk menyelamatkan nyawa orang.

Ia ingin mengambil kredit sebagai juru selamat. Ia ingin terlihat lunak, tapi tegas. Padahal, realitas di lapangan jauh berbeda. Di perairan Teluk, tiga gugus tempur kapal induk AS masih siaga penuh. USS Abraham Lincoln. USS Gerald Ford. USS George Washington. Tiga kota terapung itu mengepung Iran dengan moncong meriam yang masih berasap.

Pesan Trump jelas, ”saya tidak menembak hari ini. Tapi, pistol saya masih di pelipis kalian.”

Kategori :