MENUNGGU LEDAKAN
Januari 2026. Baru hitungan hari. Tapi, rasanya kita sudah melewati satu abad ketegangan.
Di Teheran, rakyat masih menjerit di balik tembok digital. Di langit, pesawat kargo Tiongkok terus memuntahkan senjata. Di kabel internet, virus dan uang kripto saling tikam tanpa suara.
Di Washington, seorang presiden tersenyum puas. Ia merasa baru saja membatalkan kiamat. Padahal, jarinya masih menari di atas tombol nuklir.
Sementara itu, Jakarta terlelap.
Ingat. Kita tidak boleh merasa terkapar lemas di zona nyaman.
Kita memandang peta dan merasa tenang. Jarak ribuan kilometer antara Jakarta dan Teheran kita anggap sebagai benteng pelindung. Kita pikir itu ”api tetangga”, bukan ”kebakaran rumah kita”.
Itu bahaya.
Dunia kini sempit. Saling terikat.
Pahami satu hal. Selat Hormuz adalah nadi bumi. Jika satu rudal saja menyumbat nadi itu, darah ekonomi dunia berhenti mengalir.
Dampaknya? Tidak menunggu bulan. Tapi, hitungan jam.
Saat pasokan minyak terhenti, pasar global akan panik. Harga minyak tidak lagi naik, tetapi terbang.
Di sini, di tanah air, efek dominonya akan menggila.
Antrean SPBU akan mengular sampai jalan raya. Subsidi energi yang menopang APBN akan hangus terbakar dalam semalam. Rupiah rontok. Harga cabai dan beras akan mencekik leher rakyat kecil.
Perangnya di Teluk Persia. Tapi, dompet kita yang berdarah di sini.
Kita tidak sedang menonton layar tancap dari jauh. Kita duduk di pinggir kawah yang sama.