Panggung Madas

Selasa 20-01-2026,22:18 WIB
Reporter : Arif Afandi
Editor : Yusuf Ridho

Mengembalikan simpul-simpul bersama. Arek Surabaya selama ini terbiasa menyelesaikan segala konflik di pos ronda. Jika ada ribut antar pemuda, tokoh kampung memediasi. Dan, kalau terjadi salah paham, mereka menyelesaikannya dengan ngopi bareng. 

Bukan dengan pendekatan keras seperti dengan datang berkelompok. Apalagi, membawa simbol identitas. Pun, mengatasnamakan harga diri kolektif. Gaya arek Surabaya selalu menyelesaikan konflik secara langsung, personal, dan tidak membesar-besarkan masalah.

Secara sosiologis, munculnya fenomena Madas bisa dimaknai sebagai ekspresi identitas, respons atas rasa keterpinggiran, sekaligus kegagalan kanal representasi formal. Dalam sejarah Indonesia, gerakan berbasis identitas selalu muncul ketika negara dan masyarakat sipil melemah.

Bila itu yang terjadi, fenomena Madas bukanlah sebuah anomali. Dalam kerangka negara yang majemuk, integrasi sosial bisa terganggu jika hukum tidak dipercaya, ekonomi terasa tak adil, dan ruang dialog menyempit. Pada situasi seperti itu, biasanya identitas primordial naik menjadi alat proteksi sosial.

Lantas, bagaimana mengatasinya? Penegakan hukum yang adil dan konsisten bisa menjadi solusi. Sebab, konflik horizontal sering muncul karena hukum dianggap tumpul. Ketika negara tegas, identitas pasti tidak perlu menjadi alat perlindungan. Juga, jangan beri kelompok identitas panggung secara berlebihan.

Rasanya, saatnya kembali mereaktualisasi nilai arek sebagai identitas bersama di Kota Surabaya. Seperti menanamkan kebanggan kolektif dan semangat ”kita bisa”. Bukankah warga Surabaya selalu bangga ketika menjadi arek, egalitarian, dan berani tapi punya solidaritas kuat?

Saya menjadi teringat lomba antarkampung yang berlabel Surabaya Green and Clean. Program itu sukses karena sesuai dengan nilai dasar warga Surabaya. Di dalamnya ada nilai komunalitasnya, ada kebanggaan yang diperlombakan, dan memberikan ruang ekspresi kepada warga Surabaya yang bombongan (suka dipuji).

Tentu tak perlu mengulang program yang sama. Perlu ada yang baru. Yang penting bisa memicu kebanggan kampung. Lewat kompetisi yang jelas dan bergengsi. Libatkan tokoh arek lokal dan beri apresiasi sosial, bukan finansial. Buatkan narasi kebanggan lokal dan beri dukungan teknis berkelanjutan.  

Sayang, agenda yang memberikan ruang kebanggaan kepada arek Surabaya kini makin jarang. Padahal, hal itu bisa menjadi instrumen merajut kembali relasi sosial Kota Surabaya. Terutama di kampung-kampung. Menjadi ruang ekspresi kebanggaan komunal tanpa harus menggunakan atribut identitas. Apalagi berbasis kesukuan.

Saatnya tak membiarkan kerisauan akan menyeruaknya kesadaran kelompok identitas tetap menjadi kerisauan bersama. Dari etnis apa pun sampean, jadilah arek Surabaya. Surabaya tidak anti-identitas, tapi tak suka ekslusivitas. Kita tak akan menghapus perbedaan, tapi perbedaan itu jangan sampai berubah menjadi tembok sosial.

Wes, ojok tukaran, Rek! (*)

Kategori :