Dari pengguna tersebut, sebanyak 79 persen adalah kaum milenial. Mereka membuka dan minimal melihat 1 menit setelah bangun tidur sebagai aktivitas utama.
Sejauh ini jenis media sosial yang digunakan netizen Indonesia masih cukup variatif. Namun, WhatsApp, Instagram, Facebook, dan TikTok tetap menjadi medsos yang populer.
Bahkan, TikTok menunjukkan pertumbuhan pengguna aktif yang masif, bisa mencapai lebih dari 100 juta, bahkan mendekati 160 juta, pada 2025.
Sementara itu, Instagram dan Facebook juga mendominasi dengan jangkauan luas lintas generasi, meskipun ada sedikit pergeseran tren ke arah platform profesional seperti LinkedIn.
Adapun platform terpopuler berdasar data 2024 hingga 2025 berturut-turut adalah WhatsApp sebanyak 90,8–90,9%, dominan untuk komunikasi personal. Instagram sebanyak 82,4–85,3%, cukup populer di berbagai usia muda produktif.
Facebook sebanyak 81,6%. Masih kuat di segmen gen x kaum dewasa Indonesia. YouTube sebanyak 80,3% sebagai platform video utama. TikTok sebanyak 73,5–78,4%, dengan pertumbuhan pesat, dominan di konten video pendek.
Telegram sebanyak 58,4 61,3%, cukup populer untuk grup dan channel, serta X (Twitter) sebanyak 50,4–57,5%, sejauh ini populer untuk berita dan diskusi real-time.
Sementara itu, berdasar pengguna tahun 2025, data pengguna YouTube sebanyak 143 juta. Facebook sebanyak 122 juta pengguna. TikTok sebanyak 108 juta hingga 160 juta pengguna. Instagram sebanyak 103 juta pengguna. LinkedIn sebanyak 33 juta pengguna.
Tren menarik pertumbuhan pengguna media sosial di Indonesia adalah TikTok. Bahkan, pengguna TikTok di Indonesia mencapai jumlah terbesar di Asia Tenggara.
Dalam konteks waktu penggunaan, sejauh ini TikTok mencatat waktu paling lama dihabiskan per bulan (rata-rata 44 jam 54 menit), diikuti YouTube.
Data itu menunjukkan lanskap media sosial yang dinamis, yakni platform video (YouTube, TikTok), dan komunikasi (WhatsApp) menjadi pilihan utama. Adapun platform lain bergantung pada kebutuhan pengguna.
Jumlah transaksi online di Indonesia menurut BPS terus meningkat signifikan. Dengan nilai transaksi e-commerce mencapai Rp1.288,93 triliun pada 2024 atau sekitar Rp487 triliun pada 2024 (GoodStats).
Bahkan, BPS mencatat lonjakan transaksi besar seperti Rp36,4 triliun selama Harbolnas 2025 (CNBC Indonesia, Tempo). Pertumbuhan itu didorong oleh jumlah pengguna internet yang besar (sekitar 229 juta jiwa di 2025) dan makin membudayanya belanja online di masyarakat Indonesia.
Menurut survei Komdigi, kebanyakan masyarakat Indonesia melakukan transaksi jual beli di e-commerce minimal sekali dalam sebulan.
Jika melihat tren data tersebut, komunikasi dan media ke depan akan didominasi penggunaan dan akses ke media digital (online) dan media sosial.
Selain itu, tren ke depan diwarnai dengan makin kuatnya penetrasi AI, personalisasi konten, transaksi online, periklanan digital, serta tren munculnya para kreator ekonomi, pengembangan commerce media, dan langganan premium sebagai sumber pendapatan baru, sebagai pengganti iklan tradisional.