”The best way to predict the future is create it.” (Abraham Lincoln)
TAHUN BARU selalu membawa harapan baru. Mari kita reflektif dan mencoba memprediksi apa yang akan terjadi ke depan, khususnya di 2026, terkait perkembangan industri media dan komunikasi di Jawa Timur dan Indonesia.
Para ahli komunikasi dan anggota ISKI Jawa Timur akan bertemu, membincang, dan mendiskusikan hal itu pada akhir bulan Januari di Surabaya.
Hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar menemukan peta jalan terbaik guna menghimpun best practice dan menemukan future practice dalam menghadapi situasi yang terus berubah cepat dan kompleks.
BACA JUGA:Nyinyir Itu Tua dan Media Sosial Membuatnya Terlihat Muda
BACA JUGA:Media Massa Kita (Belum) Roboh: Menuju Koeksistensi dan Rekonstruksi Sistem Komunikasi
Prof Rachmah Ida (2025), guru besar dan pakar komunikasi Unair, berulang kali menegaskan bahwa kompleksitas saat ini tidak cukup dihadapi dengan mengandalkan modal intuisi dan feeling an sich.
Tetapi, para praktisi komunikasi juga perlu memperkuat pengetahuan dan basis data ilmiah sebagai kompas jalan agar bisa lebih presisi membaca aneka perubahan tersebut.
Pendapat itu sejalan dengan para ahli forecasting bahwa kemampuan membaca situasi masa kini dan masa depan akan menentukan daya saing individu dan organisasi.
BACA JUGA:Magang Spesialis Media Sosial Harian Disway: Lebih dari Sekadar SKS
BACA JUGA:Magang Rasa Karyawan di Harian Disway: Serunya Jadi Social Media Specialist
Kita juga bisa belajar dan menyimak berbagai kisah kegagalan organisasi bisnis dan organisasi publik. Kisah dramatis pada dekade ini yang patut dijadikan bahan reflektif adalah curahan hati para pimpinan perusahaan telekomunikasi NxxxA.
Mereka mengatakan, we did not do anything wrong, but some how we lost. Apa artinya? Ya, ternyata tidak cukup sekadar bisa daily routine as usual, mengembangkan kreasi dan inovasi, tetapi juga harus cermat melihat kompetitor, perubahan tren, dan habit baru konsumen yang senantiasa berubah.
Di era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity), kini tidak ada lagi zona nyaman. Kita tidak lagi mengenal organisasi dan/atau perusahaan raksasa. Yang ada adalah organisasi dan/atau perusahaan adaptif dan lincah (agile).
BACA JUGA:Robohnya Media Massa Kami