Potensi Perbedaan Muhammadiyah dan Pemerintah Terkait Penetapan Awal Puasa Ramadan 2026

Jumat 23-01-2026,09:00 WIB
Reporter : Salsabila*
Editor : Guruh Dimas Nugraha

Kriteria itu mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat agar hilal dinilai mungkin terlihat.

Apabila pada 17 Februari posisi hilal belum memenuhi kriteria tersebut, maka secara astronomis hilal dinilai sulit atau tidak mungkin terlihat.

Dalam kondisi itu, pemerintah cenderung menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Maka, awal Ramadhan ditetapkan pada 19 Februari.

BACA JUGA:Berapa Lama Lagi Puasa? Hitung Mundur Ramadan 2026 Mulai Hari Ini

BACA JUGA:Rutinitas Harian yang Bisa Dilatih Sejak Sekarang untuk Persiapan Ramadan 2026

Akar Perbedaan Penetapan Awal Puasa

Perbedaan penetapan awal puasa antara Muhammadiyah dan pemerintah berakar pada perbedaan pendekatan metodologis. Bukan perbedaan prinsip keagamaan.

Muhammadiyah menekankan kepastian hisab sebagai dasar penentuan. Pemerintah menempatkan rukyat sebagai penentu akhir.

Kedua pendekatan itu memiliki landasan ilmiah dan fiqh yang kuat. Hisab memberikan kepastian perhitungan astronomis. Sedangkan rukyat mempertahankan tradisi pengamatan langsung. Sebagai praktik yang berkembang dalam sejarah Islam.

Sidang Isbat dan Peran Kementerian Agama


sidang isbat sangat penting untuk keputusan awal puasa--freepik

Kementerian Agama memastikan bahwa sidang isbat penetapan awal Ramadan 1447 H tetap akan dilaksanakan menjelang akhir bulan Syaban.

BACA JUGA:Puasa Ramadan 2026 Mulai Kapan? Ini Perkiraan Tanggal Awal Puasa dan Jadwal Lebaran

BACA JUGA:Muhammadiyah: Awal Ramadan 1447 Hijriah Jatuh pada 18 Februari 2026

Sidang itu akan melibatkan berbagai pihak. Mulai dari ahli falak, perwakilan ormas Islam, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga perwakilan negara sahabat.

Hasil rukyat dari puluhan titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia akan jadi bahan pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan pemerintah.

Umat Islam diharapkan tidak menjadikan perbedaan awal puasa sebagai sumber perpecahan. Tetapi sebagai bagian dari dinamika ijtihad dalam Islam.

Tokoh-tokoh agama juga menekankan pentingnya menghormati pilihan masing-masing. Baik yang mengikuti keputusan Muhammadiyah maupun pemerintah.

Kategori :