HARIAN DISWAY - Presiden Prabowo Subianto kembali membawa Indonesia ke panggung World Economic Forum (WEF) Annual Meeting di Davos, Swiss, Kamis, 22 Januari 2026.
Kehadiran itu menjadi penampilan perdana presiden Indonesia di forum ekonomi dunia tersebut setelah lebih dari satu dekade. Terakhir kali, Indonesia diwakili langsung oleh Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2011.
Pada era Presiden ke-7 Joko Widodo, partisipasi Indonesia di WEF tercatat hanya dilakukan secara daring, masing-masing pada 2020 dan 2022, seiring pembatasan global akibat pandemi Covid-19.
BACA JUGA:Riwayat Pendidikan Thomas Djiwandono, Keponakan Prabowo yang Diusulkan Jadi Deputi Gubernur BI
BACA JUGA:Presiden Prabowo Bertemu Raja Charles III, Bahas Diplomasi Lingkungan Melalui Konservasi Gajah
Dengan kehadiran Prabowo di Davos tahun ini, Indonesia kembali tampil langsung di forum ekonomi paling bergengsi di dunia.
Bagi Prabowo, kehadiran tersebut bukan sekadar simbol diplomasi. Sejak beberapa hari sebelum tampil, agenda pidatonya sudah menjadi perhatian. Ia membawa satu gagasan utama yang selama ini menjadi fondasi pemikirannya di bidang ekonomi, yakni konsep Prabowonomics.
Di hadapan para pemimpin dunia, elite ekonomi global, dan pengambil kebijakan internasional, Prabowo menyampaikan pidato selama 41 menit tanpa teks. Dalam paparannya, Prabowonomics digambarkan sebagai optimisme terhadap kinerja dan prospek perekonomian nasional Indonesia.
BACA JUGA:Bertemu PM Inggris Keir Starmer, Presiden Prabowo Diskusikan Kerjasama di Sektor Maritim
Prabowo menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang secara konsisten berada di atas 5 persen dalam satu dekade terakhir. Ia bahkan menyatakan keyakinannya bahwa laju pertumbuhan tersebut masih berpeluang meningkat pada tahun berjalan.
Selain pertumbuhan, stabilitas makroekonomi juga menjadi sorotan utama. Menurut Prabowo, Indonesia mampu menjaga inflasi di kisaran 2 persen, disertai dengan disiplin fiskal yang tetap terpelihara.
“Defisit pemerintah kita sekarang dijaga di bawah 3 persen dari PDB kita. Lembaga-lembaga internasional tidak memuji kita karena optimisme yang tidak berdasar,” jelasnya.
BACA JUGA:Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Perusak Lingkungan di Sumatra, Ini Daftarnya!
BACA JUGA:Di Balik Pertemuan Prabowo dan Mahasiswa RI di London, Harapan Akses Pendidikan Lebih Merata