Sebab, korupsi yang paling berbahaya sering kali tidak dilakukan oleh mereka yang terlihat jahat, tetapi oleh mereka yang tampak paling berjasa di mata kita.
Akhirnya, kita belajar bahwa realitas hukum memang acap kali dingin dan tanpa ampun, berbeda dengan realitas sosial yang hangat dan penuh perasaan.
Namun, demi demokrasi yang sehat, kita tidak boleh membiarkan perasaan membutakan nalar hukum kita. Wallahua’lam bissawab. (*)