Pemkot Resmi Tetapkan 14 Ruang Publik Untuk Seniman dan UMKM

Senin 02-02-2026,18:30 WIB
Reporter : Edi Susilo
Editor : Noor Arief Prasetyo

SURABAYA, HARIAN DISWAY – Kota Surabaya tak ingin hanya jadi deretan gedung beton. Pemkot kini secara resmi membuka ruang kota sebagai tempat seniman unjuk gigi kreativitas, Senin, 2 Februari 2026. 

Pemkot Surabaya telah resmi menetapkan 14 ruang publik sebagai titik tampilan seni secara permanen. Lokasi itu tercantum dalam SK Wali Kota Nomor 100.3.3.3/185/436.1.2/2025.

Dengan SK tersebut, kini para seniman kini punya "karpet merah" untuk mengekspresikan karyanya di ruang terbuka. Mulai dari musik akustik yang santai, angklung yang syahdu, hingga atraksi reog dan jaranan yang gahar.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, Heri Purwadi, mengungkapkan bahwa kebijakan ini adalah cara pemkot menghidupkan ekonomi kreatif dari akar rumput.BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Pelawak-Seniman Kabul Basuki: Zhi Zu Bu Ru, Zhi Zhi Bu Dai

BACA JUGA:Melihat Bersama #SetaraBerkarya, Saat Anak Disabilitas Menjadi Seniman di Surabaya

“Ruang publik kita jadikan bukan hanya tempat rekreasi, tapi juga ruang berekspresi bagi seniman. Ini menjadi wadah interaksi antara seni, masyarakat, dan pariwisata kota,” ujar Heri.

Ke-14 lokasi tersebut tersebar di berbagai penjuru kota. Tujuannya, agar ruang seni. tak terjadi penumpukan di pusat saja. 

Titik-titik tersebut meliputi Taman Surya (Balai Kota), Jalan Tunjungan, Kompleks Balai Pemuda, dan Tugu Pahlawan.

Selain itu, ada di kawasan pesisir seperti Adventure Land Romokalisari, Kebun Raya Mangrove, THP Kenjeran, dan Taman Suroboyo.

Ruang seni juga disediakan di kawasan heritage. Seperti Kya-Kya Kembang Jepun hingga eks Hi-Tech Mall.

Heri mencatat, saat ini, memang Jalan Tunjungan dan Balai Kota masih menjadi primadona. Selain lokasinya strategis, "penghasilan" para seniman dari apresiasi pengunjung di sana terbilang moncer. 

Sementara itu, untuk pertunjukan seni tradisional seperti reog, Taman Bungkul dan Tugu Pahlawan tetap menjadi magnet utama yang tak pernah sepi penonton.

Heri menuturkan, kehadiran seniman ini bukan sekadar hiburan gratisan. Ada efek domino ekonomi yang tercipta. Dengan lonjakan pengunjung di belasan kawasan itu, maka secara otomatis menggerakkan sektor lain. Seperti parkir dan kuliner. ”Yang nantinya berkontribusi pada PAD Surabaya,” katanya. (*)

Kategori :