BACA JUGA:Fakta-Fakta Kepribadian YBR, Bocah SD di Ngada, NTT: Anak yang Pintar dan Taat Guru
Kita sering membanggakan kearifan lokal sebagai penyelamat di masa krisis, tetapi dalam kasus YBR, solidaritas itu tampak sepi.
Ada sebuah atomisasi sosial yang menyedihkan, yakni kemiskinan yang ekstrem telah membuat setiap orang sibuk bertahan hidup sendiri-sendiri sehingga tak lagi mampu mendengar isak tangis di rumah tetangga.
Membangkitkan solidaritas nasional tidak berarti melakukan kedermawanan karitatif yang bersifat musiman. Kita perlu gigih dan harus menuntut pengembalian fungsi komunitas sebagai pengawas sosial dan penyangga pertama.
Namun, komunitas tak bisa bergerak sendiri jika negara terus-menerus membirokratisasi ruang-ruang publik dan melemahkan agensi warga melalui ketergantungan bantuan yang bersifat klientelistik.
BELAJAR DARI LUKA BANGSA LAIN
Kita membutuhkan sebuah katalisator nurani. Ingatlah bagaimana tragedi The Great Famine di Irlandia mengubah secara radikal kebijakan agraria dan perlindungan sosial mereka selamanya.
Sebab, mereka sadar bahwa kematian karena lapar adalah aib nasional. Atau, bagaimana kasus Victoria Climbie di Inggris memicu perombakan total sistem perlindungan anak secara nasional.
Di Indonesia, tragedi seperti itu sering kali hanya menjadi komoditas berita sebelum akhirnya lenyap tertimbun isu remeh-temeh lainnya.
Meminjam pemikiran menohok dari Goenawan Mohamad, kita harus menyadari bahwa keadilan bukan hanya soal pembagian roti, melainkan soal pengakuan akan martabat. Selembar surat dan gambar diri YBR yang menangis adalah sebuah ”interupsi dari yang liyan (the other)” yang menuntut kita untuk berhenti sejenak.
Jika negara dan modal sosial kita tetap membisu, sebenarnya kita sedang menunggu giliran untuk menjadi bagian dari kehancuran moral yang lebih besar. Kita tidak butuh lagi retorika ”Indonesia Emas” jika di perjalanannya kita terus menumbalkan anak-anak kita pada altar ketidakpedulian yang teknokratis.
Kematian YBR di Jerebuu bukan sekadar angka yang singgah di meja birokrat. Ia adalah sebuah gugat hayat yang paripurna. Di dahan cengkih itu, ia tidak sedang menyerah kepada nasib, melainkan sedang melayangkan keberatan paling radikal terhadap sebuah bangsa yang gagal menjamin bahwa hidup seorang anak haruslah lebih berharga daripada sebatang pena.
Kematiannya bukan sekadar sebuah noktah dalam barisan statistik kemiskinan yang dingin dan steril. Ia adalah sebuah protes eksistensial yang paling murni sekaligus paling kelam. Di dahan cengkih itu, seorang anak tak hanya mengakhiri hidupnya, ia sedang menyobek topeng peradaban kita yang mungkin gemerlap tetapi kehilangan ruh.
HEGEMONI YANG MEMBISUKAN DAN STRUKTUR YANG MENINDAS
Jika membedah tragedi itu dengan pisau analisis yang tajam, kita akan menemukan bahwa kemiskinan di pelosok Nusantara bukanlah sebuah kebetulan alamiah. Ia adalah hasil dari sedimentasi kekuasaan yang gagal mendistribusikan keadilan.
Negara sering kali hadir sebagai raksasa yang sibuk dengan makroekonomi dan angka-angka pertumbuhan. Namun, ia gagap, bahkan tuli, terhadap desah napas warganya di periferi.