Secara teoretis, kita sedang menyaksikan bekerjanya kekerasan struktural. Itu adalah bentuk kekerasan yang tidak berdarah secara langsung, tetapi mematikan melalui ketiadaan akses.
Ketika seorang anak harus memilih antara kehormatan diri sebagai pelajar dan kemustahilan ekonomi ibunya, di sanalah struktur sosial telah melakukan pembunuhan karakter.
Buku tulis dan pena, dalam konteks ini, bukan sekadar alat sekolah; mereka adalah simbol inklusi sosial. Tanpa itu, sang anak merasa terlempar dari ”dunia yang diakui”, menjadi paria di tanah airnya sendiri.
ANTARA TANGGUNG JAWAB DAN PENGABAIAN KOLEKTIF
Negara memiliki kewajiban moral dan konstitusional yang bersifat absolut. Namun, yang sering kita saksikan adalah birokratisasi penderitaan. Masalah kemiskinan dikelola sebagai masalah administrasi data, bukan sebagai masalah kemanusiaan yang mendesak.
Tanggung jawab negara seolah berhenti pada pemberian bantuan yang bersifat karitatif, tanpa menyentuh akar pemiskinan yang sistemis.
Tragedi YBR mengingatkan kita kembali pada kasus busung lapar di Asmat (2017) atau gizi buruk di Gowa beberapa tahun silam (2022), yang sempat mengentak nurani publik global, tetapi segera lenyap ditelan hiruk pikuk politik elektoral yang dangkal.
Kita adalah bangsa yang mudah terharu, tetapi cepat lupa. Solidaritas kita sering kali bersifat impulsif, bukan transformatif.
MEMBANGKITKAN MODAL SOSIAL YANG MATI SURI
Kita perlu belajar dari bagaimana sebuah tragedi mampu menggerakkan kesadaran nasional yang permanen. Tengoklah kasus Mohamed Bouazizi di Tunisia.
Kematian seorang pedagang sayur yang harga dirinya diinjak-injak oleh aparat tidak hanya menjadi duka keluarga, tetapi menjadi salah satu katalisator perubahan besar (Arab Spring). Di sana penderitaan individu dibaca sebagai penderitaan kolektif.
Di Indonesia modal sosial kita sedang mengalami ”mati suri”. Gotong royong telah terkomodifikasi dan kepedulian terfragmentasi oleh sekat-sekat kepentingan.
Untuk membangkitkan kembali solidaritas sosial nasional, kita harus memulainya dengan memulihkan imajinasi kemanusiaan kita. Kita harus mampu melihat bahwa tangis YBR di Ngada adalah tangis anak-anak kita sendiri.
MENGEMBALIKAN JIWA PADA NEGARA
Kematian YBR adalah sebuah ”catatan pinggir” yang sangat pahit. Ia menuntut kita untuk berhenti sejenak dari kegilaan pembangunan fisik dan mulai menengok kedalaman jiwa bangsa.
Sebuah bangsa yang besar tidak diukur dari seberapa banyak aspal yang digelar, seberapa banyak makanan dibagikan, melainkan dari seberapa aman seorang anak kecil bermimpi tanpa harus takut akan harga sebuah pena.