KEMATIAN YBR di dahan cengkih Jerebuu adalah sebuah skandal ontologis, sebuah pelanggaran yang tidak hanya menyentuh ranah hukum atau administrasi, tetapi juga menyerang hakikat paling mendasar dari kemanusiaan dan keberadaan (ontologi) itu sendiri.
Ia bukan sekadar tragedi personal, melainkan juga manifestasi dari tumpulnya nalar teknokratis yang selama ini kita agungkan sebagai mesin pembangunan.
Di sana, di sebuah desa sederhana di NTT, kita menyaksikan bagaimana angka-angka pertumbuhan ekonomi yang dipamerkan di mimbar-mimbar pusat kekuasaan berubah menjadi residu yang mematikan di tingkat lokal.
BACA JUGA:Kasus Anak SD Bunuh Diri di NTT, DPR RI Panggil Mendikdasmen dan Minta Polisi Transparan
ABSURDITAS TEKNOKRATIS DAN MATINYA BANTALAN SOSIAL
Kita harus menggugat bagaimana kerja teknokratis negara, baik di pusat maupun daerah, terjebak dalam fetisisme administratif. Negara merasa telah menunaikan kewajibannya hanya dengan mengirimkan bantuan sosial yang kerap salah sasaran atau terlambat tiba.
Pelindungan sosial kita telah berubah menjadi labirin birokrasi yang dingin, di mana hak dasar seorang anak untuk bersekolah harus bertarung dengan verifikasi data yang kaku. Mengapa bantalan pelindung sosial itu lenyap justru saat seorang ibu tak mampu membeli sebatang pena?
Itu adalah bukti bahwa sistem kita hanya dirancang untuk melayani ”masyarakat rata-rata”, tetapi gagal total dalam melindungi mereka yang berada di titik nadir eksistensi.
BACA JUGA:Kisah Pilu di Balik Kematian Bocah SD di NTT: Ditinggal Ayah, Ibu Berjuang Hidupi 5 Anak
Kegelisahan Daniel Dhakidae sedang mengingatkan kita bahwa negara yang hanya bekerja secara teknokratis tanpa basis moral yang kuat adalah negara yang sedang melakukan alienasi terhadap rakyatnya sendiri.
Ketika kebijakan hanya dipahami sebagai deretan angka di atas kertas kerja (spreadsheet), nyawa manusia hanya akan berakhir sebagai catatan kaki yang mengganggu pemandangan statistik.
MODAL SOSIAL YANG TERLELAP DALAM EGOISME KOLEKTIF
Pertanyaan besar yang harus kita ajukan adalah: ke mana perginya komunitas lokal? Mengapa modal sosial, yang konon adalah DNA bangsa ini dalam wujud gotong royong, seolah mengalami tidur panjang?