Jika kesepakatan 1+1 benar terjadi, Marc Marquez tetap memegang kendali atas jendela transfer berikutnya. Ini bisa menjadi caranya untuk mengambil kembali kontrol, di tengah dinamika pasar pembalap yang kompleks.
BACA JUGA:Ducati Buka Kartu di Sepang: Desmosedici GP26 Tampilkan Winglet Paling Radikal
BACA JUGA:Desmosedici GP26, Senjata AI Ducati Menuju Era Baru MotoGP
Sebagai pembalap tertua kedua di grid 2026 setelah Johann Zarco, Marc Marquez akan segera berusia 33 tahun. Ia berulang kali menyatakan akan pensiun ketika tak lagi menjadi yang tercepat. Namun hingga kini, ia masih menjadi yang tercepat.
Memperpanjang kontrak dengan Ducati memang terdengar logis. Namun, mengikat masa depan hingga 2028 justru terlihat kurang masuk akal.
Marc Marquez disebut sedang melakukan manuver yang belum pernah terjadi sebelumnya, memanfaatkan Ducati untuk mendominasi jangka pendek, sambil merancang kepergian yang bersejarah.
Dengan format 1+1, ia tidak hanya menjaga keabadian, tetapi juga menegaskan bahwa dialah penguasa takdirnya sendiri, baik di lintasan maupun di ruang negosiasi.
Jika skenario ini terwujud, Marc Marquez tidak hanya berpotensi melampaui Valentino Rossi dalam jumlah gelar, tetapi juga menutup karirnya sebagai legenda yang tak pernah bisa dikendalikan siapa pun.(*)