Dikutip dari American Psychological Association (APA), 29 Oktober 2008, berjudul Understanding sexual orientation and homosexuality, itu menyangkut orientasi seksual seseorang.
Orientasi seksual adalah ketertarikan seksual seseorang pada orang lain. Umumnya muncul pada tahap akhir masa kanak-kanak. Di saat remaja, orang sudah tahu orientasi seksualnya.
Orientasi seksual dibagi tiga: heteroseksual, laki-laki tertarik hanya pada perempuan. Gay dan lesbian, pria atau wanita yang tertarik hanya dengan sesama jenis kelamin. Biseksual, pria atau wanita yang tertarik pada pria dan pada wanita.
Apa penyebab seseorang punya orientasi seksual tertentu, misalnya, gay?
Menurut APA, belum ada konsensus di antara para ilmuwan mengenai alasan pasti seseorang mengembangkan orientasi heteroseksual, biseksual, gay, atau lesbian.
Meski banyak penelitian telah mengkaji kemungkinan pengaruh genetik, hormonal, perkembangan fisik, sosial, dan budaya terhadap orientasi seksual, belum ada temuan yang memungkinkan para ilmuwan untuk menyimpulkan bahwa orientasi seksual ditentukan faktor tertentu.
Banyak ilmuwan berpendapat bahwa faktor bawaan lahir dan lingkungan sama-sama memainkan peran penting membentuk orientasi seksual seseorang. Kebanyakan orang mengalami sedikit, atau bahkan tidak punya pilihan, mengenai orientasi seksual mereka. Atau, terjadi begitu saja.
Di kasus pembunuhan Zain, jika kesaksian Undang benar, pelaku setara preman. Pelaku mengejar korban dan mengendalikannya. Pelaku menjadikan korban sebagai target pemerasan. Pelaku menguasainya. Ketika berusaha menghindar, korban dibunuh.
Mengapa remaja bisa begitu?
Dikutip dari Los Angeles Times, 11 April 2011, berjudul A teen’s friends are a powerful influence, karya Valerie Ulene (praktik dokter di Los Angeles, AS) diungkapkan, remaja nakal bisa akibat salah bergaul. Atau, bergaul dengan anak nakal.
Ulene: ”Ortu saya cukup mudah mengurus saya saat remaja. Saya kutu buku. Saya mendapat nilai A di sekolah, ikut dalam pemerintahan siswa, dan menghabiskan sebagian besar waktu luang saya menonton tayangan ulang film Little House on the Prairie.”
Dilanjut: ”Ortu tidak banyak mengeluh tentang teman-teman saya. Kebanyakan dari mereka sama lurusnya dengan saya. Ibu dan ayah saya menganggap mereka sebagai pengaruh positif ke saya.”
Namun, banyak orang tua tidak seberuntung itu. Anak remaja mereka bergaul dengan anak-anak yang lebih suka berpesta daripada mengerjakan PR atau berkelahi daripada olahraga tim. Hasilnya, si anak tertular nakal.
Direktur psikologi klinis di Universitas North Carolina di Chapel Hill, AS, Mitch Prinstein mengatakan, ”ini masalah rumit. Ini pertanyaan yang wajar dan tepat untuk ditanyakan oleh orang tua kepada diri mereka sendiri, anak mereka bergaul dengan siapa?”
Menurut Prinstein, pengaruh teman di usia remaja jelas sangat kuat dan, terlalu sering, tidak seperti diharapkan.
Perilaku tidak sehat hampir pasti menular di antara remaja. Remaja yang teman-temannya merokok, minum alkohol, atau menggunakan narkoba, misalnya, sangat mungkin ditiru atau terpaksa diikuti karena pertemanan.