Polisi Dalami Dugaan Bullying ABK di Wonokromo Surabaya, Keterangan Sekolah dan Keluarga Berbeda

Sabtu 21-02-2026,12:49 WIB
Reporter : Noor Arief Prasetyo
Editor : Noor Arief Prasetyo

HARIAN DISWAY - Kasus dugaan bullying terhadap AM, 16, anak berkebutuhan khusus di salah satu sekolah kawasan Wonokromo, Surabaya, masih didalami kepolisian setelah muncul perbedaan keterangan antara pihak keluarga dan sekolah, Sabtu, 21 Februari 2026.

Pihak keluarga korban menyebut AM kerap mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya. Perlakuan itu disebut bermula dari ejekan hingga berujung pada dugaan pemukulan.

“Dia kalau tidak ada yang mulai, nggak mungkin sampai seperti itu. AM ini kami kenal pendiam di rumah, jarang sekali mengamuk,” kata Dewi, bibi korban saat dikonfirmasi suarasurabaya.net.

Namun, ES, kepala sekolah tempat AM bersekolah, memberikan keterangan berbeda. Ia menyebut AM beberapa kali marah di sekolah, terutama saat dibangunkan ketika tertidur di kelas.

BACA JUGA:Siswa Diajak jadi Pelopor Anti-Bullying dan Internet Sehat melalui PUSPAGA Goes to School Surabaya

BACA JUGA:Santri Ponpes Al Kautsar Sukodono Diedukasi Antibullying

“Beberapa kali saya mengetahui AM tertidur di kelas. Dan waktu dibangunkan ya marah-marah. Saya juga beberapa kali dapat laporan dari siswa dan guru lainnya. Tapi saya selalu bilang sama anak-anak, kalau AM marah tolong panggil guru. Karena mereka nggak mungkin mengatasi sendiri,” ungkapnya waktu dikonfirmasi suarasurabaya.net.

ES menyebut kejadian AM marah di sekolah sudah terjadi sekitar lima kali sejak masuk. Menurutnya, pola yang terjadi hampir serupa, yakni AM tertidur, kemudian dibangunkan, lalu marah dan melempar barang di sekitarnya.

“Di sekolah, tiap hari yang dia lakukan adalah tidur kalau nggak ya main handphone. Saya beberapa kali bilang ke AM untuk sesekali menulis apa yang dijelaskan guru. Tapi ya gitu, dia bangun sebentar terus tidur lagi,” jelasnya.

Terkait dugaan pengeroyokan, ES membenarkan insiden bermula saat AM tertidur di kelas dan diminta guru membasuh wajah di toilet pada Selasa, 10 Februari 2026. Ia menyebut sempat terjadi perselisihan di toilet hingga berlanjut ke dalam dan luar kelas.

BACA JUGA:Bullying di Sekolah Jadi Darurat Nasional, DPR Desak Evaluasi Aturan

BACA JUGA:Tewasnya Pelajar SMPN 19 Tangsel karena Bullying: Bergurau sampai Mati

“Nggak tahu masalah apa marahnya, hingga terjadi kejar-kejaran sampai ke luar sekolah. Di luar, AM juga marah sempat angkat kursi untuk dilempar ke temannya. Tapi berhasil dilerai satpam. AM kemudian menyerang satu atau dua anak. Karena anak itu merasa kesakitan, dia juga ikut melawan. Jadi kalau dibilang ada bullying, ya nggak 100 persen benar,” ungkapnya.

Menurut ES, pihak sekolah telah menawarkan penyelesaian secara kekeluargaan. Namun, keluarga korban memilih menempuh jalur hukum.

“Saya sudah berusaha menghubungi pihak keluarga supaya ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Tapi ibu korban kukuh meminta ini agar diselesaikan dengan jalur hukum. Jadi dari pihak ibunya sudah nggak mau ketemu dengan pihak sekolah,” tuturnya.

Kategori :