Ramadan Mewujudkan Masyarakat Egaliter

Sabtu 21-02-2026,21:53 WIB
Oleh: Asmori*

RAMADAN merupakan bulan yang penuh rahmat dan ampunan yang sangat ditunggu-tunggu seluruh umat Islam di seluruh dunia, di samping atas dasar panggilan agama/kitab suci, Qur’an surat Al-Baqarah: 183 yang artinya ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”. 

Juga, atas dasar panggilan sosial, yakni tidak ada perbedaan derajat manusia. Semuanya sama dengan melepaskan semua status, baik jabatan, kehormatan ataupun status kekayaan. Semuanya dibebani hukum yang sama tanpa terkecuali.

Dimensi sosial Ramadan lebih condong membentuk kesalehan sosial, dengan diwajibkannya setiap umat Islam untuk mengeluarkan zakat, baik zakat fitrah maupun zakat mal, yang diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya, terutama kepada fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, gharimin, fisabilillah, dan ibnu sabil. 

BACA JUGA:Ramadan dan Kampus Berdampak: Dari Spiritualitas ke Aktualitas

BACA JUGA:MBG saat Ramadan

Hal tersebut dalam rangka untuk mengingatkan kita untuk selalu berbagi kepada sesama tanpa membeda-bedakan suku, ras, dan kelompok mana pun.

TRADISI PENYAMBUTAN RAMADAN

Kegiatan dalam rangka untuk menyambut datangnya bulan Ramadan sangatlah beraneka ragam. Di daerah Kudus dan Semarang masyarakat menyambut datangnya bulan Ramadan dengan acara megengan. 

Kegiatan utamanya adalah menabuh beduk di masjid sebagai tanda bahwa besok sudah memasuki bulan Ramadan dan seluruh umat Islam wajib berpuasa. 

Ada pula tradisi balimau kasai, yaitu tradisi Islam Melayu dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadan dengan cara mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk yang oleh masyarakat disebut dengan limau. 

BACA JUGA:Ramadan: Bebas dari Keserakahan

BACA JUGA:Refleksi Ramadan: Berharap Kepemimpinan Indonesia yang Lebih Empatik

Jeruk yang digunakan adalah jeruk nipis, jeruk purut, dan jeruk kapas. Adapun kasai adalah wewangian yang dipakai saat keramas. Bagi masyarakat Kampar, pengharum rambut itu (kasai) dipercaya dapat mengusir segala macam rasa dengki yang ada di dalam kepala sebelum memasuki bulan Ramadan. 

Tradisi Islam Minangkabau adalah mandi balimau dalam rangka membersihkan hati dan tubuh guna mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah puasa. 

Hal itu dilakukan dengan cara mengguyur anggota tubuh atau keramas disertai dengan ritual mandi yang memberikan kenyamanan tubuh/lahir dan batin ketika melaksanakan ibadah puasa. 

Kategori :