Pertama, perusahaan yang terintegrasi dalam rantai pasok global (global supply chain) dan berorientasi ekspor cenderung menunjukkan tingkat kepedulian dan kepatuhan yang lebih tinggi dan sistematis.
Bagi mereka, kepatuhan tidak semata dipandang sebagai kewajiban hukum, tetapi juga telah menjadi bagian integral dari strategi korporat untuk menjaga reputasi dan keberlanjutan kontrak dengan mitra internasional. Untuk memastikan kepatuhan, perusahaan-perusahaan tersebut rutin menjalani audit tahunan.
Kedua, perusahaan yang berorientasi pada pasar domestik memperlihatkan pola kepedulian dan kepatuhan yang lebih beragam dan sering kali parsial. Dari yang hanya memenuhi aspek normatif juga yang belum paham.
Namun, jika pas bertemu budaya perusahaan, kebijakan pribadi pimpinan, serta keyakinan manajemen tentang nilai produktivitas, loyalitas, dan etos kerja yang dimiliki penyandang disabilitas. Kepedulian dan respon tinggi. Kepedulian dan respons terbaik yang bersumber dari nilai-nilai internal, bukan tekanan eksternal.
Ketiga, pelatihan keterampilan memainkan peran kunci dalam memperkuat keyakinan para pimpinan HRD untuk menerima tenaga kerja penyandang disabilitas. Pelatihan yang memadai membantu mengurangi ketidakpastian dan membangun persepsi positif tentang kompetensi calon pekerja.
Keempat, ULD tidak hanya menjalankan fungsi administratif seperti pendataan dan sosialisasi, menghubungkan/memfasilitasi pelatihan, serta memberikan pendampingan selama proses rekrutmen hingga adaptasi awal di tempat kerja. Fungsi mediasi strategis itu efektif menurunkan asimetri informasi, mengurangi ketidakpastian bagi perusahaan.
PELAJARAN PENTING
Kepedulian dan respons perusahaan terhadap kuota disabilitas terbelah antara kepatuhan strategis-instrumental yang didorong tekanan pasar global, dan kepatuhan normatif-internal yang tumbuh dari nilai-nilai perusahaan.
Dalam konteks ini, intervensi seperti pelatihan keterampilan dan mediasi ULD menjadi faktor penentu menjembatani kedua motivasi tersebut.
Dalam aktivitas sosialisasi dan job canvassing, memahami budaya dan kebijakan perusahaan secara tepat, termasuk pemasaran produk yang berorientasi ekspor, dapat membantu mengoptimalkan aktivitas link-match penempatan penyandang disabilitas.
Pada akhirnya, bekerja merupakan ruang penyandang disabilitas untuk meningkatkan kepercayaan diri, dari perasaan sebagai beban menjadi lebih berguna. (*)
*) Budi Raharjo, staf ahli gubernur Jatim budang kesmas dan SDM, dan mahasiswa program doktoral, Jurusan PSDM, Universitas Airlangga.