Keras Bekerja, tapi Tak Kunjung Kaya: Ironi Perempuan Indonesia Kini

Minggu 22-02-2026,22:07 WIB
Oleh: Meilinda Nuur Pratiwi*

PUKUL 9 malam selepas Tarawih, seorang ibu paruh baya di Surabaya baru menuntaskan orderan ke-17. Ponselnya bergetar bukan notifikasi order baru, melainkan peringatan jatuh tempo pinjaman daring. ”Tanah? Emas? Jangan mimpi,” katanya lirih. ”Yang penting, anak bisa makan besok pagi.”

Dulu menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya adalah hal yang wajar. Namun, kini tuntutan ekonomi memaksa perempuan ikut mencari nafkah. Yang memprihatinkan, meski mereka bekerja keras, hasilnya tetap tidak cukup. Orang tuanya dulu bekerja sebagai buruh tani, bisa punya sawah sendiri. Sementara itu, dia dengan 17 orderan sehari justru tak punya apa-apa.

MENGAPA BEKERJA KERAS TAK LAGI CUKUP UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN?

Angka Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan partisipasi kerja perempuan mencapai 56,63 persen pada Agustus 2025. Bahkan, 14,37 persen pekerja Indonesia adalah female breadwinners, ’perempuan pencari nafkah utama keluarga’. 

Namun, peningkatan partisipasi itu tidak otomatis menurunkan angka kemiskinan. Per September 2025, jumlah penduduk miskin Indonesia masih 23,36 juta orang atau 8,25 persen dari total penduduk. Jutaan keluarga masih terbelenggu dalam rantai kemiskinan yang makin mengikat.

BACA JUGA:Work Hard or Work Smart? Bekerja Cerdas Tanpa Takut Terjebak Toxic Productivity

BACA JUGA:Lansia Bekerja, Strategi Organisasi atau Peduli?

Salah satu penyebabnya adalah daya beli upah terus merosot. Tahun 2005, dengan UMR Kota Surabaya Rp578 ribu, seorang pekerja bisa membeli sekitar 3,65 gram emas. Dua dekade kemudian, UMR naik lebih dari sembilan kali lipat menjadi Rp5,28 juta, tetapi daya belinya terhadap emas justru merosot drastis hanya cukup untuk 1,82 gram emas. 

Ironisnya, kenaikan upah kalah telak dari harga emas yang melonjak lebih dari 18 kali lipat. Bekerja lebih keras, tetapi nilai tabungan tergerus inflasi.

Perempuan lebih terperangkap karena beban ganda. Sebanyak 84,39 persen female breadwinners masih mengurus rumah tangga. Mereka bangun jam 4 pagi, mengurus anak dan suami, baru bekerja. Waktu terpecah, energi habis, dan yang tersisa hanya cukup untuk bertahan, bukan menabung.

Sektor yang menyerap mereka, ekonomi gig, justru menjadi jerat. Platform menyebut mereka mitra agar tidak terikat dari kewajiban memberikan upah layak, jaminan sosial, atau uang pensiun. Ketika pendapatan tak cukup, pintu darurat terbuka, pinjaman daring. OJK mencatat outstanding pinjol Rp96,62 triliun pada November 2025. 

Pinjol bukan akar masalah, melainkan konsekuensi dari sistem ekonomi yang tak berpihak. Ia seperti tali yang membelit ketika kaki sudah terpeleset

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 mencatat, literasi keuangan mencapai 66,46 persen. Masyarakat tahu investasi penting, tahu pinjol berisiko. Namun, pengetahuan tak cukup ketika berhadapan dengan kebutuhan hari ini. 

Itulah yang dalam ilmu perilaku disebut intention-action gap, ’jurang antara yang diketahui dan yang dilakukan’. Teori prospek Kahneman menjelaskan bahwa dalam situasi terdesak, manusia lebih memilih kepastian hari ini daripada risiko masa depan.

JALAN KELUAR

Kategori :