Kamis pagi, 19 Februari 2026, Nizam dibawa Anwar dan TR ke puskesmas terdekat. Setelah diperiksa dokter, dirujuk ke RSUD Jampang Kulon, Sukabumi. Tiba di IGD, langsung dirujuk ke ruang ICU. Menandakan kritis.
Anwar: ”Sebelum dimasukkan ke ICU, ia sempat bicara ke saya, bahwa ia dipaksa mamanya (TR) minum air mendidih. Setelah itu, ia dimasukkan ke ICU dan meninggal di situ pada malamnya.”
Mendengar laporan Nizam, Anwar memukul istrinya saat Nizam sudah didorong brankar oleh paramedis menuju ICU.
Anwar: ”Saya percaya omongan Raja. Sebab, setahun lalu ia pernah dianiaya istri saya ini (TR). Sudah saya laporkan ke Polres Sukabumi. Laporannya belum saya cabut.”
Waktu itu tubuh Nizam lebam-lebam dihajar TR dengan kayu. Saat laporan diproses di polres, Anwar dan TR didamaikan ustad yang mendampingi mereka lapor polisi. Di situ, kata Anwar, TR bersujud mencium kaki Anwar dan berjanji tidak mengulangi menganiaya Nizam.
Anwar: ”Waktu itu disaksikan polisi, juga divideokan, saat dia (TR) bersujud mencium kaki saya minta ampun. Terus dianggap damai. Penyidikan dihentikan. Tapi, laporan belum saya cabut. Masih tercatat di sana.”
Kini terjadi seperti itu.
Anwar: ”Dia (TR) pilih kasih. Dia punya dua anak angkat yang ikut serumah dengan kami. Kalau Raja libur sekolah dan pulang, kadang ia berantem dengan anak itu (anak angkat TR, Red). Kalau mereka berantem, yang dihantam selalu anak saya (Nizam). Istri pilih kasih.”
Apa kata TR? ”Saya tidak menyiram air panas. Sungguh tidak. Kulitnya melepuh karena Raja sakit panas dalam,” kata TR kepada wartawan. Sepertinya tidak logis.
TR: ”Kalau saya sih berharap ini tidak diperpanjang, tidak dipersulit, tidak diteruskan. Toh, anak saya kan sudah hilang, sudah tidak ada, saya berduka ini. Apa dengan diautopsi, diviralkan, apa keuntungan buat saya? Anak tidak bisa hidup lagi.”
Lengkap, kedua pihak menyampaikan informasi. Polisi menunggu hasil autopsi penyebab kematian korban sebelum menentukan status hukum TR.
Pakar psikologi evolusioner dari Kanada, Martin Daly dan Margo Wilson (suami istri), dalam karya mereka, Violence Against Stepchildren (1996), menyatakan bahwa penganiayaan anak oleh ortu tiri disebut efek Cinderella.
Efek Cinderella bersumber dari dongeng di Eropa tentang gadis cilik Cinderella yang selalu disiksa ibu tiri dan saudara tirinyi.
Psikolog evolusioner menggambarkan efek itu sebagai produk sampingan dari bias terhadap keluarga biologis dan konflik antara pasangan reproduktif yang berinvestasi pada anak-anak kecil yang tidak memiliki hubungan darah dan salah satu pasangan.
Hasil riset menyimpulkan bahwa anak tiri di Kanada, Inggris Raya, dan Amerika Serikat memang memiliki risiko yang jauh lebih tinggi terhadap penganiayaan anak dalam berbagai bentuk, terutama pemukulan yang berakibat fatal.
Dalam situasi saat keluarga memiliki anak kandung dan anak tiri, penelitian menemukan bahwa orang tua tiri umumnya lebih menyukai anak kandung mereka.