Dampak Perang Iran dan Kemesraan AS-Inggris: Inggris Tak Lagi Setia Seperti Dulu

Rabu 04-03-2026,15:36 WIB
Reporter : Doan Widhiandono *)
Editor : Noor Arief Prasetyo

BACA JUGA:Rusia Peringatkan AS dan Israel, Serangan ke Iran Bisa Jadi Bumerang Nuklir

BACA JUGA:Iran Klaim Korban di Pihak AS Tembus 650 Orang Personel Militer

Pangkalan yang dibuka untuk tentara AS ada di Gloucestershire, Inggris barat. Selain itu, juga pangkalan gabungan Inggris–AS di Pulau Diego Garcia di Samudra Hindia. Downing Street, kantor PM Inggris, menyatakan bahwa keputusan itu diambil setelah menilai risiko terhadap kepentingan Inggris meningkat.

Starmer di parlemen menyinggung pengalaman masa lalu. “Kita semua ingat kesalahan Irak, dan kita telah belajar dari pelajaran itu,” katanya. Pernyataan itu merujuk pada dukungan Inggris terhadap invasi pimpinan AS ke Irak pada 2003. Perang yang kemudian dinilai bermasalah.

Kala itu, sebanyak 179 tentara Inggris dilaporkan tewas dalam konflik tersebut. Penyelidikan resmi menyatakan bahwa Perdana Menteri saat itu, Tony Blair, bertindak berdasar informasi intelijen yang cacat.

Sensitivitas publik Inggris terhadap intervensi militer di Timur Tengah memang belum sepenuhnya pulih sejak perang Irak. Terlebih, pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) di Siprus dilaporkan diserang drone buatan Iran pada Senin, 2 Maret 2026, dini hari. Landasan pacu dibom. Dan Starmer menegaskan bahwa pangkalan tersebut tidak digunakan oleh pasukan AS.


PESAWAT JET F/A-18E Super Hornet bersiaga di kapal induk USS Abraham Lincoln, 2 Maret 2026.-US Navy-AFP-

Sejumlah analis menilai Starmer berada dalam posisi sulit. Evie Aspinall, Direktur British Foreign Policy Group, menyebut perdana menteri terkekang oleh jerat diplomatik dengan AS. Dan itu kerap membuat Inggris kalang kabut dalam hal perang Ukraina-Russia dan ancaman AS soal Greenland.

Richard Whitman, pakar hubungan internasional dari University of Kent, memperingatkan pernyataan Trump bisa menjadi penanda. Bahwa hubungan AS dan Inggris selanjutnya tidak lagi spesial.

Kekhawatiran London, menurutnya, adalah dampak lanjutan terhadap isu Ukraina. Dan kemungkinan Trump menyimpan ganjalan terhadap Inggris. “Itu jelas akan menjadi bencana bagi Inggris,” katanya.

Sophia Gaston, peneliti kebijakan luar negeri di King’s College London, menilai situasi masih bisa diselamatkan. Asal Inggris berani meningkatkan anggaran belanja pertahanan.

Pernyataan Trump menegaskan bahwa relasi transatlantik kini tak lagi sepenuhnya kebal terhadap perbedaan. Bagi London, menjaga keseimbangan antara loyalitas sekutu dan kehati-hatian hukum domestik menjadi kunci. Bagi Washington, kesetiaan lama tampaknya tak lagi dianggap otomatis.

Kemesraan yang sudah berlangsung sekitar tujuh dekade itu kini diuji. Dan ujian kesetiaan kadang memang berat… (*)

*) Dosen mata kuliah Komunikasi Internasional, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

 

Kategori :