Itu sering kali membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Bagi sebagian orang, momen mudik bahkan menjadi pengeluaran terbesar selama Ramadan dan Lebaran.
Meski demikian, pendapat bahwa tradisi Lebaran sebagai ajang pemborosan tidak sepenuhnya tepat. Dalam konteks budaya Indonesia, berbagai pengeluaran tersebut sering kali dipandang sebagai bentuk kebahagiaan. Berbagi rezeki. Serta mempererat hubungan keluarga.
BACA JUGA:8 Buah Penahan Dahaga yang Bisa Dikonsumsi saat Sahur Ramadan 2026
BACA JUGA:Resep Mochi Bites Simpel, Ide Jualan Takjil Ramadan 2026
Di balik kemeriahannya, tradisi Lebaran kerap dianggap membuat pengeluaran membengkak. Padahal, makna utamanya tetap pada kebersamaan dan silaturahmi.--Pinterest
Memberikan THR kepada kerabat yang lebih muda, misalnya, dianggap sebagai simbol berbagi kebahagiaan di hari raya.
Begitu pula dengan menjamu tamu yang datang bersilaturahmi. Tradisi itu sudah menjadi bagian dari nilai keramahan dalam budaya masyarakat Indonesia.
Agar tidak berubah menjadi pemborosan, para ahli keuangan biasanya menyarankan masyarakat untuk membuat perencanaan anggaran. Dilakukan sejak awal Ramadan.
Dengan menyusun daftar kebutuhan dan menentukan prioritas pengeluaran, masyarakat dapat tetap merayakan Lebaran dengan meriah. Tanpa harus membebani kondisi finansial.
BACA JUGA:Bergiliran Berbagi Berkah, Tradisi List Takjil Tiap Rumah yang Tetap Lestari Saat Ramadan
BACA JUGA:Ramadan Tanpa Over Scroll, Gunakan Aplikasi Screen Time agar Ibadah Lebih Fokus dan Tenang
Pada akhirnya, tradisi Lebaran bukan semata tentang pengeluaran besar. Melainkan tentang kebersamaan, saling memaafkan, dan mempererat hubungan dengan keluarga serta kerabat.
Jika dikelola dengan bijak, berbagai tradisi tersebut justru dapat menjadi momen penuh makna. Tanpa harus berujung pada pemborosan. (*)
*) Mahasiswa magang dari Prodi Akidah dan Filsafat Islam, UINSA.