Working Poor: Bekerja, tapi Tak Menjamin Kesejahteraan

Sabtu 07-03-2026,21:30 WIB
Oleh: Erika Fajar Subhekti*

Dalam kondisi tersebut, perlu dipahami bahwa tekanan ekonomi seperti itu bukan sekadar persoalan daya beli, akan tetapi juga berpengaruh pada stabilitas sosial dan kualitas hidup. 

Ketika pengeluaran wajib terus naik, sementara pendapatan tidak berubah, masyarakat dipaksa mengambil keputusan yang sulit, yaitu seperti menunda pendidikan atau memilih pekerjaan informal yang rawan eksploitasi. 

Ketika masyarakat terpaksa mengorbankan pendidikan atau memilih pekerjaan informal demi bertahan hidup, tentu keputusan tersebut bukan mencerminkan kurangnya motivasi, melainkan lemahnya struktur penyangga ekonomi yang seharusnya melindungi mereka dari pendapatan yang tidak stabil. 

Pilihan yang tampak individual itu sesungguhnya mengindikasikan kegagalan sistemik karena negara belum menyediakan instrumen yang cukup untuk memastikan stabilitas kesejahteraan dasar.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masalah ini tidak cukup diatasi dengan kebijakan yang tidak menyelesaikan masalah secara menyeluruh karena akar persoalannya berada pada struktur perlindungan sosial dan ketenagakerjaan yang masih belum memadai. 

Program bantuan yang tidak tepat sasaran, kesempatan kerja formal yang terbatas, serta ketergantungan pada sektor infomal membuat banyak masyarakat terjebak dalam working poor, yaitu bekerja sepanjang hari namun tetap tidak sejahtera. Jika situasi ini dibiarkan, tentu tekanan ekonomi akan meluas menjadi masalah kesehatan mental ataupun juga penurunan produktivitas. 

Dalam jangka panjang, kondisi ini melemahkan ketahanan keluarga dan mengganggu perkembangan anak. Situasi tersebut juga membatasi peluang masyarakat untuk memperbaiki hidupnya. 

Tanpa cadangan sumber daya, mereka semakin rentan ketika menghadapi pengeluaran mendadak atau krisis yang terjadi. Tentu ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah yang perlu segera ditangani dengan solusi yang tepat.

Pemerintah perlu fokus pada perbaikan kualitas pekerjaan, bukan sekadar menciptakan jumlah lapangan pekerjaan. 

Langkah seperti peningkatan keterampilan, perluasan akses pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, serta penguatan perlindungan bagi pekerja informal menjadi penting agar masyarakat dapat keluar dari lingkaran kemiskinan dalam bekerja. 

Sistem bantuan sosial juga perlu diawasi dan diperbaiki agar tepat sasaran dan benar-benar menjangkau kelompok yang paling membutuhkan. 

Pemerintah juga perlu memperkuat perlindungan ekonomi melalui kebijakan upah yang layak, perluasan jaminan sosial, dan peningkatan akses pendidikan serta kesehatan yang terjangkau. 

Jika langkah-langkah itu dijalankan secara konsisten, peluang masyarakat untuk mencapai kesejahteraan yang lebih stabil akan meningkat atau jauh lebih besar. (*)

*) Erika Fajar Subhekti, mahasiswa S-3 Pengembangan Sumber Daya Manusia, Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga.

 

Kategori :