SORE itu saya duduk di warung batagor pinggir jalan. Bersebelahan persis dengan bale banjar. Bau bumbu kacang campur aduk dengan aroma lem dan cat.
Anak-anak muda banjar sedang sibuk merangkai bambu dan gabus. Bikin ogoh-ogoh raksasa berwajah seram. Sebentar lagi Nyepi. Di lori warung ada Pak Kelian. Ada Bli Ketut arsitek ogoh-ogoh yang lagi rehat. Dan, ada Bli Made tukang ojek langganan saya. Kami mengunyah batagor sambil ngobrol ngalor ngidul. Tapi, hari ini obrolannya berat. Soal perang.
”Pak, saya baca di HP, Iran minta ganti rugi sama Amerika,” kata Bli Made sambil menusuk potongan batagor yang masih mengepul.
BACA JUGA:Presiden Iran Tetapkan Tiga Syarat untuk Mengakhiri Perang
BACA JUGA:Hari Ke-13 Perang, Iran Lancarkan Serangan Paling Masif pada Malam Lailatul Qadar
Saya mengangguk. ”Iya, ada tiga syarat katanya.”
Pak Kelian yang biasanya sibuk mengurus administrasi warga langsung menaruh garpunya. ”Tiga syarat? Kayak mau ngajuin izin keramaian arak-arakan saja. Apa saja itu?”
Saya jelaskan. Perlahan. Biar meresap seperti bumbu kacang.
TIGA SYARAT YANG BERUJUNG BUNTU
”Pertama, Iran minta diakui haknya,” saya mulai.
”Hak apa?” potong Bli Ketut sambil mengelap tangannya yang kena lem. ”Hak jalan duluan pas pawai?”
”Hak sebagai negara berdaulat, Tut. Hak punya teknologi nuklir untuk tujuan damai. Hak dihormati wilayahnya. Intinya, jangan diganggu. Tapi, Amerika selama ini menganggap Iran itu seperti preman. Amerika bilang hakmu tidak ada, yang ada kamu harus menurut.”
BACA JUGA:Evakuasi WNI dari Iran Dimulai, 22 Orang Tiba di Tanah Air
BACA JUGA:Nasib Haji 2026 di Tengah Perang AS–Israel vs Iran, Kemenhaj Siapkan 4 Skenario Keberangkatan
Bli Made menyela. ”Lalu, bagaimana dengan Israel?”