SAMBIL MENUNGGU OGOH-OGOH KERING
”Jadi, bagaimana nasib tiga syarat itu Pak?” tanya Bli Made.
Saya berpikir sejenak. Tiga syarat itu sebenarnya masuk akal. Negara yang diserang wajar minta ganti rugi. Negara yang dikhianati wajar minta jaminan.
Tapi, di dunia ini yang kuat yang menang. Kekuatan tidak seimbang. Meski begitu, kalau perang makin panjang, Amerika bisa kehabisan uang dan Israel kehabisan sekutu. Sementara itu, Iran punya kekuatan asimetris jutaan rakyat yang siap mati. Jadi, masih sangat mungkin terwujud meski butuh porsi batagor lebih banyak buat menunggunya.
Kami terdiam sejenak. Menikmati sisa bumbu kacang di piring.
”Pak, saya simpulkan, ya,” ucap Bli Made memecah hening. ”Iran minta tiga hal. Diakui, diganti, dan dijamin. Amerika menganggap Iran melemah, tapi sendirinya lagi bokek. Israel tidak mau ngasih sama sekali. Jadinya, perang terus. Yang paling repot, ya, rakyat kecil.”
Pak Kelian menambahkan. ”Dan, Trump sibuk kampanye. Netanyahu sibuk mengancam pakai nuklir.”
Bli Ketut menutup obrolan. ”Kita di sini cuma bisa makan batagor sambil nungguin ogoh-ogoh kering. Semoga perangnya cepat selesai!”
Saya tersenyum. Itu kesimpulan yang sangat sempurna. Kami meletakkan garpu. Piring sudah licin bersih. Di luar, matahari makin condong ke barat. Anak-anak banjar mulai mengecat ogoh-ogoh raksasa berwajah seram. Tapi, di Timur Tengah, ogoh-ogoh perangnya jauh lebih mengerikan. Pun, tiga syarat itu masih menggantung di udara. Entah kapan akan dijawab. (*)