”Israel lebih parah. Mereka maunya Iran hilang dari peta. Dibubarkan saja.”
”Lho, negara kok dibubarkan?” Bli Ketut terheran-heran. ”Kalau banjar kita mau dibubarkan, saya ngamuk keliling kampung, Pak!”
”Makanya itu,” saya lanjut. ”Syarat pertama ini saja sudah buntu. Jadinya saling ngotot.”
Saya lalu masuk ke syarat kedua yang paling lucu. Iran minta ganti rugi. Semua kerusakan infrastruktur, rumah sakit, fasilitas nuklir, ditambah korban jiwa, harus dibayar oleh Amerika Serikat (AS).
BACA JUGA:Trump Telepon Putin 1 Jam, Diminta Akhiri Konflik dengan Iran secara Diplomatik
BACA JUGA:IRGC: Iran yang Menentukan Akhir Perang Timur Tengah, Bukan Amerika Serikat
Bli Made nyengir lebar. ”Bayar? Amerika mau bayar? Ongkos perangnya saja mereka berutang ke Kongres!”
”Pintar kamu. Data terbaru menyebutkan enam hari pertama perang saja sudah habis 11,3 miliar dolar. Sekitar 177 triliun rupiah! Amerika ketawa getir. Jangankan bayar Iran, bayar cicilan perang sendiri saja mereka kelabakan. Minta tambahan utang 50 miliar dolar ke Kongres. Kalaupun mau, berapa nilainya? Angka ganti ruginya bisa bikin Amerika bangkrut seketika.”
”Israel bagaimana?” tanya Pak Kelian.
”Israel sama sekali tidak memikirkan ganti rugi. Mereka malah memikirkan bagaimana caranya menambah kerusakan. Bagi Israel, perang ini kesempatan emas buat menghabisi Iran. Mau dibakar habis kayak ogoh-ogoh pas malam pengerupukan.”
BACA JUGA:Trump Klaim Perang Iran Bisa Segera Berakhir, AS Telah Capai Kemajuan Besar
BACA JUGA:Perang Iran Ganggu Persiapan, Irak Desak FIFA Tunda Laga Playoff PIala Dunia
JANJI MANIS KURANG BERLAKU
”Nah, yang ketiga ini paling manusiawi. Iran minta jaminan internasional,” saya lanjut. ”Bukan janji lisan. Tapi, garansi yang mengikat. Kalau Amerika atau Israel menyerang lagi, harus ada konsekuensi keras.”
”Wah, itu mah kayak minta jaminan ke pecalang kalau karya kita tidak bakal dirusak banjar sebelah,” ujar Pak Kelian.
”Betul sekali! Tapi, masalahnya sejarah mereka sudah sangat pahit. Tahun 2015, Iran sudah tanda tangan kesepakatan nuklir. Isinya Iran stop program nuklir, Amerika cabut sanksi. Sudah jalan beberapa tahun. Eh tahun 2018, Trump keluar dari kesepakatan. Sanksi balik lagi. Iran merasa dikhianati total.”