”Oalah, ditinggal janji pas lagi sayang-sayangnya,” Bli Made menyela sambil tertawa pelan.
”Iya. Terus, baru-baru ini mereka hampir sepakat damai lagi lewat perantara Oman. Tinggal 48 jam sebelum pertemuan keenam yang katanya bakal bikin terobosan bersejarah.”
”Tiba-tiba Israel ngebom,” potong Bli Ketut.
”Tepat! Dan, Amerika ikut-ikutan. Makanya, sekarang mereka minta jaminan pasti. Tapi, siapa yang mau kasih? Ganti presiden ganti kebijakan. Trump saja yang bikin kesepakatan bisa membatalkan kesepakatannya sendiri. Apalagi Israel, malah lagi siap-siap perang total.”
Semua diam. Batagor di piring mendadak terasa alot dikunyah.
AMERIKA DI ATAS ANGIN, ISRAEL TETAP NGOTOT
”Terus, kenapa Amerika tidak terima saja tawaran tiga syarat itu, Pak?” tanya Pak Kelian memecah kesunyian.
Saya menghela napas. ”Itu dia inti masalahnya. Di mata Washington, tawaran Iran ini sama sekali bukan niat baik untuk damai.”
”Lalu apa?” Bli Ketut ikut penasaran.
”Amerika menganggap tawaran itu sebagai tanda melemah. Tanda Iran sudah kehabisan napas kena sanksi bertubi-tubi. Amerika merasa sedang di atas angin. Logika mereka, buat apa kompromi dengan musuh yang dianggap sedang sempoyongan?”
Bli Made manggut-manggut. ”Oh, jadi Amerika makin besar kepala, ya.”
”Begitulah. Tapi, ironisnya, Amerika sendiri sebenarnya galau. Tujuan perang mereka tidak jelas. Coba tebak, apa targetnya. Ganti rezim? Hancurin nuklir? Atau, cuma pamer otot? Kata Senator Elissa Slotkin, tujuan kabinet Trump itu lompat-lompat kayak iklan televisi.”
”Sementara, biaya perang terus menguras kas negara. Dan, Trump malah sibuk blusukan ke Ohio dan Kentucky. Tur kampanye. Janji harga bensin turun. Padahal, di Kentucky harga bensin malah naik jadi 3,20 dolar per galon!”
”Jadi, presidennya sibuk kampanye, tentaranya sibuk menembakkan drone?” timpal Bli Made.
”Tepat sekali! Galau tingkat tinggi.”
Lalu, bagaimana dengan Israel? Ini beda. Mereka tidak galau. Mereka punya target yang sangat jelas. Hancurkan Iran. PM Netanyahu bahkan kasih sandi Operasi Raungan Singa. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar. Hizbullah di Lebanon mulai ikut menembak karena ditembak duluan oleh Israel. Sekarang Israel menghadapi perang dua front dan korban berjatuhan. Tapi, mereka tetap ngotot karena menganggap Iran ancaman eksistensial.