Tiongkok memiliki sektor perbankan bayangan, istilahnya shadow banking yang terlalu membengkak. Itu mengingatkan kita pada kehancuran yang terjadi di AS dan Eropa pada tahun 2007/2008.
Namun, yang paling dikhawatirkan para pengamat yang mempelajari kondisi Tiongkok adalah gelombang besar uang yang keluar dari Tiongkok dengan jumlah ratusan miliar dolar per bulan untuk mencari tempat berlindung yang aman.
BACA JUGA:Menjelaskan Cetak Biru Pembangunan Tiongkok Dalam Lima Tahun Depan Melalui Empat Kata Kunci
BACA JUGA:Jet Tiongkok Tembak Jatuh Rafale, Indonesia Harus Belajar
Selama 20 tahun pada 2015, undervaluation terhadap yuan telah menjadi hal yang konstan dalam urusan perekonomian dunia. Sekarang tampaknya keadaan telah berubah.
Apakah Tiongkok akan menjadi sekadar booming pasar negara berkembang yang memburuk, meskipun merupakan ledakan terbesar yang pernah terjadi di dunia? Itu adalah pemikiran yang menakutkan dan menimbulkan pertanyaan.
Bagaimana negara dengan neraca perdagangan yang kuat dan cadangan devisa yang besar bisa terjerumus ke dalam krisis mata uang?
Hal itu mengingatkan kita pada 2008, ketika eksportir unggulan seperti Korea Selatan dan Rusia mendapati bank mereka bermasalah dan berjuang mati-matian untuk mendapatkan pendanaan dolar.
BACA JUGA:Perang Dagang dan Keamanan Nasional Tiongkok
BACA JUGA:Matahari Terbit dari Tiongkok
Penjelasan yang sama terjadi pada tahun 2015 dan 2008. Globalisasi terjadi melalui saluran yang berbeda-beda pada tingkat yang berbeda-beda. Jalur perdagangan yang terlihat di mana negara-negara seperti Korea Selatan dan Tiongkok begitu dominan hanyalah memiliki satu jalur. Tidak ada jalur yang paling menentukan, dalam terjadinya krisis keuangan.
Suatu perekonomian dengan surplus perdagangan yang kuat, cadangan mata uang asing yang melimpah, dan mata uang yang menguat mungkin akan menyebabkan bank, perusahaan, dan warga negara banyak utang dalam mata uang asing.
Kualitas pembangunan Tiongkok dan ”defisit kembar” Amerika Serikat itulah yang mengalihkan perhatian para analis Barat dari ketegangan keuangan besar-besaran yang menumpuk di neraca Atlantik Utara. Namun, sejak 2008, seiring dengan berlanjutnya modernisasi besar-besaran di Tiongkok, Tiongkok menjadi makin terintegrasi dalam hal keuangan.
Jadi, kesimpulannya, untuk saat ini, teori umum tidak memadai untuk dijadikan acuan para pemimpin Tiongkok menghadapi tugas-tugas tata kelola internal yang begitu besar dan rumit sehingga mereka akan bekerja dan berpikir keras dalam waktu yang lama.
Para pemimpin Tiongkok saat ini dan di masa depan masih dan akan tetap bersikap ambivalen dalam memikul beban dan tanggung jawab internasional yang dianggap penting oleh banyak pihak luar.
Para pemimpin itu terpecah antara ketertarikan untuk mendapatkan status global yang lebih besar dan melindungi kepentingan Tiongkok yang makin meningkat di seluruh dunia serta kesadaran bahwa negara mereka masih miskin dan cengkeraman mereka terhadap kekuasaan masih lemah.