PASURUAN, HARIAN DISWAY - Arif, 48 tahun, seorang petani di Kota Pasuruan berhasil mengembangkan metode bertani padi organik dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar.
Salah satu yang paling unik adalah penggunaan susu sapi sebagai pupuk alami untuk menyuburkan tanaman padi.
Selama proses tanam dari bibit hingga panen, Arif mengandalkan berbagai bahan alami seperti susu sapi dan tanaman obat, termasuk daun mimbo, untuk menjaga kesehatan tanaman padi.
BACA JUGA:Ironis, Stunting di Pasuruan pun Menyasar Anak-Anak dari Keluarga Mampu
BACA JUGA:BPJS Pasuruan Pastikan Layanan JKN dan Seluruh Faskes Tetap Buka selama Libur Lebaran
Metode tersebut ia terapkan di lahan bengkok yang berada di Kelurahan Darmoyudo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan. Di lahan seluas sekitar 800 meter persegi, Arif menanam padi jenis Ciherang.
Sebenarnya metode ini bukan percobaan pertama baginya. Arif telah puluhan tahun dikenal sebagai petani yang berusaha meminimalkan penggunaan pupuk kimia.
Menariknya, lahan yang ia sewa bukan termasuk lahan subur. Namun menurut Arif, kondisi tersebut tidak menjadi hambatan.
Tanah yang dianggap kurang subur itu diolahnya secara telaten menggunakan ramuan alami dari akar pohon bumbu dan bungkil pisang. Ramuan tersebut merupakan resep lama yang diwariskan oleh keluarganya.
BACA JUGA:Kantor Pertama PBNU Ada di Kota Pasuruan, Gus Amak Harapkan Menjadi Cagar Budaya NU
BACA JUGA:Alun-alun Kota Pasuruan Kumuh Karena PKL, Ini Rencana Penataannya
"Ini kan sebenarnya bukan ramuan baru. Dari dulu petani di sini juga menggunakan itu. Jauh sebelum ada pupuk dan obat-obatan pestisida. Saya dulu diajarkan oleh bapak dan mbah-mbah," ujarnya kepada Harian Disway.
Setelah tanah diolah hingga gembur, Arif mulai menanam bibit padi. Untuk perawatan tanaman, ia menggunakan susu sapi sebagai pengganti pupuk urea.
Susu yang digunakan adalah susu dari sapi betina yang baru melahirkan atau dikenal sebagai susu rusak, yaitu susu yang biasanya tidak dijual untuk konsumsi manusia.
"Beli susunya perliter 4 ribuan. Itu susu yang tidak bisa dijual dan diminum manusia. Susu saya berikan pada padi usia 7 hari sampai hampir panen. Sekitar 3 sampai 4 kali dalam satu masa tanam," jelasnya.