DUNIA baru saja mencoba melunasi utang spiritualnya melalui madrasah Ramadan. Sebuah fase saat lapar dan haus bukan sekadar urusan biologis, melainkan juga latihan radikal untuk menumbuhkan empati.
Namun, tepat ketika segenap umat Islam bersiap merayakan kemenangan dalam bingkai halalbihalal dalam momen religius bernama Idulfitri, sebuah tradisi luhur untuk saling memaafkan, langit justru robek oleh desing rudal dan dentuman artileri.
Konflik yang melibatkan aktor-aktor negara di Timur Tengah, khususnya kecamuk yang terus meluas, bukan sekadar urusan geopolitik. Perang yang dipicu agresi Israel-Amerikat Serikat terhadap Iran itu adalah penistaan terhadap momen sakral kemanusiaan.
Ketika jutaan orang bersimpuh memohon ampunan, mesin perang justru bekerja lembur untuk menciptakan dendam kesumat baru.
BACA JUGA:Paradoks Lebaran di Era Digital
BACA JUGA:Ramadan dan Lebaran: Momentum Mencetak Generasi Unggulan
Dalam Islam, Idulfitri adalah kembalinya manusia pada fitrah atau kesucian asal. Ritual halalbihalal secara filosofis bermakna ”menguraikan benang yang kusut” atau ”menghalalkan” kesalahan sesama. Namun, bagaimana mungkin kita bicara tentang kesucian ketika tanah yang dipijak basah oleh darah?
Secara teologis, perang di bulan suci atau hari raya adalah pelanggaran terhadap konsep haram (suci/terlarang). Al-Qur’an menekankan bahwa membunuh satu nyawa tak berdosa setara dengan membunuh seluruh umat manusia.
Serangan militer di tengah suasana lebaran adalah bentuk nihilisme religius di mana simbol-simbol ketuhanan diabaikan demi syahwat kekuasaan. Islam memandang perdamaian (salam) bukan sekadar absennya perang, melainkan juga hadirnya keadilan secara substantif.
Tanpa keadilan, Lebaran hanya menjadi perayaan mekanistik di atas puing-puing peradaban.
KOSMOLOGI DAMAI YANG TERLUKA
Dari kacamata humanisme kritis, fenomena itu menunjukkan betapa rapuhnya tatanan global kita. Perang sering kali dibenarkan melalui retorika ”pertahanan diri” atau ”kepentingan nasional”, tetapi humanisme kritis akan bertanya: kepentingan siapa yang dilayani oleh tangisan yatim piatu di hari raya?
Aksi saling serang itu adalah manifestasi dari apa yang disebut oleh Hannah Arendt sebagai ”banalitas kejahatan”. Kejahatan menjadi hal yang dianggap biasa karena diproses melalui birokrasi militer yang dingin.
Ketika bom jatuh di saat warga seharusnya berkumpul untuk makan bersama (kenduri), terjadi pemutusan koneksi kemanusiaan yang akut. Dunia kehilangan kemampuannya untuk bergetar saat melihat penderitaan orang lain.
Suasana halalbihalal yang seharusnya menjadi ”ruang ketiga” untuk rekonsiliasi justru dikoyak menjadi hiruk-pikuk nir-empati yang penuh darah.