Warga Iran Salat Id di Tengah Perang, Teheran Padat Meski Diancam Serangan

Sabtu 21-03-2026,16:21 WIB
Reporter : Doan Widhiandono
Editor : Doan Widhiandono

TEHERAN, HARIAN DISWAY-Ribuan warga Iran tetap menggelar salat Idulfitri, Sabtu, 21 Maret 2026. Padahal, perang terus memanas. Ibadah berlangsung di berbagai kota, termasuk ibu kota Teheran, yang dalam beberapa pekan terakhir menjadi sasaran serangan hampir setiap hari.

Rekaman televisi pemerintah memperlihatkan kawasan Masjid Agung Imam Khomeini di pusat Teheran dipenuhi jamaah sejak pagi. Kepadatan membuat sebagian warga harus mengikuti salat dari luar area masjid. Mereka tetap bertahan meski risiko serangan udara masih mengintai.

“Ribuan umat Muslim melaksanakan salat Idulfitri untuk menandai berakhirnya Ramadan di tengah perang Timur Tengah,” demikian siaran televisi pemerintah Iran yang dikutip kantor berita Agence France-Presse.

Ya, itulah Lebaran yang kontras di Negeri para Mullah tersebut. Di satu sisi, warga menjalankan ibadah yang sakral. Di sisi lain, suara ledakan masih menjadi bagian dari keseharian negeri tersebut.

BACA JUGA:Trump Samakan Serangan AS ke Iran dengan Pearl Harbor, Singgung Jepang di Depan PM Takaichi

BACA JUGA:F-35A Lightning II Ditembak Iran, Jet Siluman Andalan AS Dipaksa Mendarat Darurat

Iran, negara dengan mayoritas penduduk Syiah, merayakan Idulfitri sehari lebih lambat dibanding sebagian besar negara Muslim lainnya yang mayoritas Sunni. Perbedaan itu terkait metode penentuan awal bulan Syawal.

Tradisi di Iran, pemimpin tertinggi negara memimpin langsung Salat Id. Namun tahun ini, Ayatollah Mojtaba Khamenei tidak hadir. Ia juga belum pernah muncul di ruang publik sejak diangkat menjadi pemimpin tertinggi awal bulan ini.

Ketiadaan Mojtaba menjadi sorotan. Sebab, ia adalah pengganti, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan pada awal perang, 28 Februari 2026.

Sebagai gantinya, Kepala Lembaga Peradilan Iran Gholam Hossein Mohseni Ejei hadir dalam salat Id di Teheran. Kehadirannya menegaskan bahwa pemerintahan tetap berjalan meski dalam kondisi darurat.

Di lapangan, suasana tetap padat. Banyak jamaah memilih datang lebih awal untuk menghindari pembatasan ruang. Namun kapasitas masjid tidak mampu menampung seluruh peserta. “Karena keterbatasan ruang, banyak jamaah mengikuti salat dari luar masjid,” demikian laporan media pemerintah.

Risiko keamanan sebenarnya tinggi. Teheran menjadi salah satu target utama sejak perang pecah. Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel disebut menargetkan fasilitas strategis serta pejabat tinggi Iran.

Sejumlah pejabat penting dilaporkan tewas, termasuk Ayatollah Ali Khamenei. Meski begitu, intensitas serangan tidak menurun.

BACA JUGA:Rudal Iran Hantam Pangkalan Udara Saudi, Lima Pesawat Tanker AS Rusak

BACA JUGA:Menakar Iran Pasca-Ali Khamenei

Kategori :