Batas Akses vs Algoritma

Senin 06-04-2026,05:33 WIB
Oleh: Sendy Krisna Puspitasari*

TIDAK ADA alarm ketika anak-anak tenggelam dalam dunia digital. Semua tampak normal justru karena algoritma bekerja terlalu halus untuk disadari. Di balik ketenangan itu, mereka sebenarnya sedang bertarung, bukan dengan teman sebaya atau pelajaran sekolah, melainkan dengan sesuatu yang tak terlihat: algortima. 

Pertarungan antara batas akses dan algoritma pada gawai bukan lagi sekadar isu teknis para pemrogram. Apa yang tampak sebagai kebiasaan digital sehari-hari anak sesungguhnya merupakan arena tarik-menarik yang tidak mereka sadari, yang pada akhirnya menentukan cara mereka memahami, menilai, dan merespons dunia di sekitarnya. 

Secara teoretis, internet menjanjikan demokratisasi informasi dan semua orang bisa mengetahui apa saja. Namun, dalam realitasnya, algoritma media sosial, mulai Tik Tok hingga Twitter, justru bekerja dengan prinsip filterasi yang ketat.

Akibatnya, ruang digital yang seharusnya terbuka justru membentuk pengalaman yang berbeda bagi setiap pengguna, termasuk anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan. 

BACA JUGA:Algoritma Kebencian dan Peliyanan Syiah

BACA JUGA:Algoritma Media Sosial dan Urgensi Literasi Multikultural

Kerentanan itu bukan sekadar asumsi, melainkan terlihat dalam berbagai data yang menunjukkan bagaimana anak-anak menghadapi risiko nyata di ruang digital.

Berdasar data Kementerian Komunikasi dan Digital, Indonesia memiliki lebih dari 210 juta pengguna internet, dengan sebagian besar di antaranya merupakan anak-anak remaja. Ironisnya, hampir 48 persen anak dilaporkan pernah mengalami perundungan daring sehingga menunjukkan ruang digital belum sepenuhnya aman bagi mereka.

Angka-angka tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi mencerminkan cara kerja sistem digital yang membentuk apa yang dilihat dan dirasakan pengguna. 

Dalam teori filter bubble yang dikemukakan Eli Pariser bahwa algoritma menciptakan isolasi intelektual yang menyajikan konten sesuai dengan preferensi, riwayat pencarian, dan lokasi. 

BACA JUGA:Demokrasi di Bawah Bayang-Bayang Algoritma

BACA JUGA:Echo Chamber Digital: Bagaimana Algoritma Memengaruhi Pandangan Politik Kita

Di sanalah batas akses itu muncul secara halus. Batasnya bukan lagi berupa larangan eksplisit dari pemerintah (meski itu masih ada), melainkan batasan yang dibangun oleh kode-kode pemrograman yang menentukan mana yang layak mampir di beranda kita dan mana yang harus ”ditenggelamkan”. 

Bagi anak-anak, batas itu tidak terasa sebagai pembatasan, tetapi sebagai arus konten yang terus mengalir dan diam-diam membentuk cara mereka untuk melihat dunia. 

Arus yang tampak alami itu sesungguhnya menyimpan mekanisme pengaturan yang lebih kompleks, termasuk bagaimana akses dipercepat, diperlambat, bahkan dibatasi tanpa disadari oleh penggunanya.

Kategori :