Tiga kali terpilih, tiga kali melalui ketegangan yang berbeda. Tapi, semuanya meninggalkan kesan yang tak terlupakan.
"Tahun pertama itu berkesan. Karena kan aku bisa masuk di antara kakak-kakak kelas yang jago-jago. Tahun ketiga juga berkesan, apalagi kan ini tahun terakhirku main di DBL, terus anak-anak yang baru di tahun ini juga pada nggak mau kalah. Semuanya punya kesan yang indah lah," kenangnya.
DBL adalah babak pertama. Winda tahu itu. Setelah menamatkan masa SMA, ia sadar butuh panggung yang lebih besar untuk terus berkembang.
Ya, liga profesional perempuan, sebuah wadah yang hingga kini masih menjadi impian kolektif banyak pemain basket putri Indonesia.
"Siapa sih yang enggak mau kepilih buat bela nama Indonesia di luar negeri. Itu jadi salah satu mimpiku, pakai seragam Indonesia main buat Indonesia. Minta doanya ya," beber Winda.
Dan mimpi itu bukan miliknya sendiri. Kata dia, nanti ada sebuah wadah yang bisa menampung itu semua. Karena menurutknya tak cuman Winda saja yang ingin buat main untuk Indonesia. "Teman-temanku yang lain juga ingin," tandas Winda. (*)