Merdeka Tapi Masih Merakit: Paradoks Industri yang Kaya Fisik, Miskin Engineering

Senin 11-05-2026,15:39 WIB
Oleh: Lalak Indiyono*

Kita butuh keberanian memberi ruang pada teknologi dalam negeri. Bukan berarti menutup diri dari dunia luar. Justru sebaliknya: kita belajar dari luar, tetapi tidak selamanya menjadi murid yang hanya disuruh merakit.

Sebab kalau tidak, kita akan terus berada di posisi yang sama. Pabrik ada. Produksi ada. Pasar ada. Tetapi kendali teknologi tidak sepenuhnya ada di tangan kita. 

BACA JUGA:Dari Lahan Kosong ke Ruang Sosial: Urban Farming sebagai Strategi Ketahanan Pangan

BACA JUGA:Menimbang Ulang Relevansi Prodi: Antara Kebutuhan Industri dan Masa Depan Peradaban

Dan selama kita hanya menjadi perakit, nilai tambah terbesar akan tetap pergi ke tempat lain.

Merdeka secara politik sudah lama kita capai. Tetapi kemerdekaan teknologi masih harus terus diperjuangkan.

Negara industri bukan ditentukan oleh siapa yang paling banyak membuat barang. Negara industri ditentukan oleh siapa yang menguasai ilmu, desain, rekayasa, dan teknologi di balik barang itu. 

Di situlah pekerjaan rumah kita.

Bukan hanya membangun lebih banyak pabrik. Tetapi membangun bangsa yang benar-benar mampu menciptakan teknologinya sendiri. 

*) Dosen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas 45 Surabaya

Kategori :