Merdeka Tapi Masih Merakit: Paradoks Industri yang Kaya Fisik, Miskin Engineering

Merdeka Tapi Masih Merakit: Paradoks Industri yang Kaya Fisik, Miskin Engineering

Indonesia merdeka, tapi hanya merakit. Saatnya kuasai desain dan rekayasa, bukan sekadar pabrik!-Nano Banana 2-Nano Banana 2

Indonesia sudah lama merdeka. Tetapi dalam urusan industri, kita masih sering seperti tamu di rumah sendiri.

Pabriknya ada di sini. Tenaga kerjanya orang sini. Pasarnya juga besar di sini. Namun, teknologi kuncinya sering kali bukan milik kita. Desainnya dari luar. Material pentingnya dari luar. Sistem kontrolnya dari luar. Bahkan standar teknisnya pun sering harus mengikuti yang sudah ditentukan oleh negara lain. 

Kita bangga bisa membuat banyak barang. Mobil dirakit. Motor diproduksi. Elektronik dibuat. Mesin-mesin industri berjalan. Tetapi pertanyaannya sederhana: seberapa jauh kita benar-benar menguasai teknologi di balik semua itu?

Ini pertanyaan yang agak pahit. Tetapi harus ditanyakan.

Sebab industri bukan hanya soal punya pabrik. Industri juga bukan sekadar ada cerobong asap, mesin yang berjalan, dan ribuan pekerja yang masuk setiap pagi.

Industrialisasi yang matang harus membawa bangsa naik kelas: dari sekadar membuat, menjadi memahami; dari sekadar merakit, menjadi merancang; dari sekadar memakai standar, menjadi ikut menentukan standar.

Masalahnya, kita terlalu lama nyaman di posisi tengah. Tidak miskin industri, tetapi juga belum benar-benar kuat secara teknologi.

BACA JUGA:Tsunami Digital: Saat Anak Lebih Cepat Tahu daripada Orang Tuanya

BACA JUGA:Haji Ilegal: Jalan Pintas yang Berujung Petaka, Negara Harus Tegas dan Tuntas

Inilah jebakannya. Kita sudah masuk ke rantai produksi global. Namun, belum selalu masuk ke pusat keputusan teknologi global. Kita ikut memproduksi barang, tetapi nilai tambah terbesarnya sering kali tetap tinggal di luar negeri.

Dulu B.J. Habibie pernah memberi arah yang menarik. Negara berkembang tidak harus selalu memulai dari nol. Kita bisa mulai dari teknologi yang sudah ada. Teknologi itu dibeli, dipelajari, dibongkar cara kerjanya, dimodifikasi, lalu dikembangkan sendiri.

Logikanya masuk akal.

China juga melakukan itu. Mereka belajar dari teknologi luar. Mereka membeli lisensi. Mereka membangun pabrik. Mereka menyerap ilmu manufaktur. Tetapi mereka tidak berhenti di situ. Mereka terus naik. Dari produksi ke rekayasa. Dari rekayasa ke desain. Dari desain ke inovasi.

Di situlah bedanya.

Kita sering berhenti terlalu cepat. Pabrik berdiri, produksi jalan, investasi masuk, tenaga kerja terserap. Lalu kita merasa sudah berhasil. Padahal, di balik itu, kemampuan engineering nasional belum tentu ikut tumbuh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: