Merdeka Tapi Masih Merakit: Paradoks Industri yang Kaya Fisik, Miskin Engineering

Merdeka Tapi Masih Merakit: Paradoks Industri yang Kaya Fisik, Miskin Engineering

Indonesia merdeka, tapi hanya merakit. Saatnya kuasai desain dan rekayasa, bukan sekadar pabrik!-Nano Banana 2-Nano Banana 2

Akibatnya, industri kita tumbuh secara fisik, tetapi belum selalu tumbuh secara teknologis.

Lihat saja industri otomotif. Kita mampu merakit kendaraan dalam jumlah besar. Tetapi untuk komponen inti yang membutuhkan presisi tinggi, sistem kontrol, material khusus, dan teknologi canggih, ketergantungan impor masih terasa. Begitu pula di banyak sektor lain. Kita bisa memproduksi, tetapi belum tentu menguasai seluruh rantai teknologinya.

Di sinilah muncul paradoks.

Pemerintah mendorong Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN. Tujuannya bagus. Bahkan sangat penting. TKDN bisa memperkuat industri lokal, membuka pasar bagi produk dalam negeri, dan mendorong lahirnya rantai pasok nasional. 

BACA JUGA:Denda KTP dan Fotokopi yang Abadi

BACA JUGA:Guru untuk Gen Z: Saatnya Profesi Mulia Dihargai dengan Nyata

Tetapi di lapangan, masalahnya tidak cukup diselesaikan dengan angka persentase. 

Banyak industri ingin memenuhi TKDN tinggi. Namun kemampuan bahan baku, material khusus, proses manufaktur, dan komponen presisi dalam negeri belum cukup dalam. Akhirnya industri lokal tetap harus mengimpor bahan antara, komponen penting, atau teknologi tertentu. 

Jadi persoalannya bukan sekadar nasionalisme membeli produk lokal. Persoalannya adalah kedalaman kemampuan industri kita sendiri.

Kalau kemampuan teknologinya belum dibangun, TKDN bisa berubah menjadi beban administratif. Di atas kertas terlihat tinggi. Tetapi di dapur produksinya, industri masih bergantung pada luar negeri. 

Hal serupa terjadi pada standar. Indonesia punya SNI. Itu penting. Tetapi dalam banyak proyek industri, standar asing seperti ASME, ASTM, JIS, DIN, dan lainnya masih menjadi rujukan utama. 

Apakah itu salah? Tidak selalu.

Industri memang membutuhkan standar yang diakui secara global. Dunia teknik tidak bisa berjalan hanya dengan semangat nasionalisme. Mesin harus aman. Material harus kuat. Desain harus teruji. Produk harus bisa dipertanggungjawabkan.

Tetapi fakta itu menunjukkan satu hal: kita masih lebih sering menjadi pengguna standar, bukan pembentuk standar.

Padahal, standar adalah wajah lain dari penguasaan teknologi. Negara industri yang kuat bukan hanya membuat barang. Ia menentukan spesifikasi. Ia menentukan ukuran mutu. Ia menentukan bagaimana sebuah produk disebut aman, efisien, dan layak digunakan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: