Pendidikan Tinggi dan Logika Pasar

Selasa 12-05-2026,10:21 WIB
Oleh: Ahmad Tholabi Kharlie*

Persoalannya, perdebatan mengenai relevansi pendidikan sering berkembang terlalu jauh hingga menempatkan kampus semata sebagai pemasok tenaga kerja. Pendidikan kemudian diukur terutama dari tingkat serapan lulusan di pasar kerja. 

BACA JUGA:Fantastis! Pinjol Pendidikan Tinggi Tak Sesuai Amanat UU Capai 450 Miliar

Program studi dianggap baik apabila cepat menghasilkan pekerjaan. Bidang ilmu yang tidak memiliki hubungan langsung dengan industri sering dipandang kurang relevan.

Fungsi Kampus

Universitas sejak awal tidak pernah lahir hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar. Kampus merupakan ruang pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan nalar kritis, pematangan kebudayaan, sekaligus tempat lahirnya gagasan-gagasan besar tentang kemanusiaan.

Ilmu-ilmu humaniora, filsafat, agama, sastra, sejarah, hingga ilmu dasar sering kali tidak memiliki hubungan liniar dengan kebutuhan industri jangka pendek. Bidang-bidang ilmu tersebut justru membentuk fondasi moral dan intelektual sebuah bangsa. 

Peradaban tidak hanya dibangun oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kualitas etika, kebijaksanaan publik, kemampuan membaca sejarah, sensitivitas sosial, dan kedalaman refleksi manusia.

Martha Nussbaum (2010) mengingatkan bahwa pendidikan yang terlalu diarahkan pada pertumbuhan ekonomi berisiko melemahkan kemampuan berpikir kritis dan empati sosial masyarakat. Demokrasi membutuhkan warga negara yang mampu memahami kompleksitas manusia, bukan sekadar tenaga kerja yang efisien.

Pandangan itu menjadi penting di tengah kecenderungan global yang makin menempatkan pendidikan sebagai instrumen ekonomi. Kampus perlahan diarahkan untuk mengikuti logika pasar yang sangat cepat berubah. 

Universitas dapat berubah menjadi lembaga pelatihan teknis yang sibuk mengejar tren industri tanpa sempat membangun horizon pengetahuan yang lebih luas.

Padahal, kebutuhan pasar sendiri terus bergerak. Keterampilan yang hari ini dianggap penting dapat menjadi usang hanya dalam hitungan beberapa tahun. 

Laporan OECD bahkan menunjukkan bahwa kemampuan yang paling dibutuhkan pada masa depan justru meliputi berpikir kritis, kreativitas, kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan adaptasi sosial.

Kompetensi semacam itu lahir melalui pendidikan yang memberikan ruang pada refleksi, dialog, eksplorasi gagasan, dan kebebasan berpikir. Kampus memerlukan ruang akademik yang memungkinkan mahasiswa memahami manusia dan masyarakat secara utuh, bukan hanya mempelajari keterampilan teknis tertentu.

Salah Diagnosis

Perdebatan tentang pendidikan dan pengangguran sering pula melahirkan diagnosis yang kurang tepat. Ketika angka pengangguran sarjana meningkat, kampus kerap menjadi pihak pertama yang disalahkan. Program studi dianggap terlalu banyak. Kurikulum dinilai tidak relevan. Perguruan tinggi dipandang gagal membaca kebutuhan pasar.

Padahal, persoalan ketenagakerjaan jauh lebih kompleks daripada sekadar hubungan antara kampus dan dunia kerja.

Kategori :