Data memperlihatkan bahwa pengangguran terbuka berdasar pendidikan masih cukup tinggi pada lulusan SMA sebesar 28 persen dan SMK 22,35 persen (Kompas, 10 Mei 2026). Lulusan diploma dan sarjana memang turut menghadapi tantangan penyerapan kerja, tetapi persoalannya tidak dapat dilepaskan dari struktur ekonomi nasional secara keseluruhan.
Masalah utama Indonesia bukan semata pada jumlah lulusan perguruan tinggi, melainkan keterbatasan penciptaan lapangan kerja berkualitas. Industrialisasi nasional belum cukup kuat menyerap tenaga kerja terdidik dalam jumlah besar. Banyak daerah yang masih bertumpu pada sektor informal dengan produktivitas rendah. Investasi riset dan inovasi nasional juga belum berkembang optimal.
Dalam situasi seperti itu, menutup atau mengurangi program studi tertentu belum tentu menyelesaikan persoalan. Pengangguran tidak otomatis turun hanya karena beberapa bidang ilmu dianggap tidak relevan dengan pasar.
Persoalan itu memperlihatkan kecenderungan untuk meletakkan seluruh beban pembangunan ekonomi kepada lembaga pendidikan. Kampus seolah dituntut menyelesaikan persoalan struktural ekonomi nasional yang sebenarnya berada di luar kapasitas pendidikan itu sendiri.
Hubungan pendidikan dan pasar kerja semestinya dipahami secara lebih seimbang. Pendidikan memang perlu relevan dengan perkembangan zaman. Relevansi tersebut mencakup kemampuan membaca perubahan sosial, teknologi, dan kebutuhan masyarakat secara luas, bukan sekadar penyesuaian teknis terhadap kebutuhan industri jangka pendek.
Horizon Baru
Masa depan pendidikan membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar perdebatan antara idealisme kampus dan kebutuhan pasar kerja. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara relevansi ekonomi dan tanggung jawab peradaban.
Kampus perlu membangun kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan sosial. Kolaborasi dengan dunia industri penting diperkuat. Program magang, riset terapan, kewirausahaan, dan inovasi sosial perlu terus dikembangkan agar lulusan memiliki pengalaman nyata menghadapi perubahan dunia kerja.
Pada saat yang sama, pendidikan juga perlu tetap menjaga ilmu-ilmu dasar dan humaniora sebagai bagian penting pembangunan bangsa. Universitas memerlukan ruang reflektif agar tetap mampu menjaga akal sehat publik di tengah perubahan zaman yang sangat cepat.
Di era kecerdasan artifisial saat ini, kemampuan manusia yang paling mendasar justru makin penting. Teknologi mungkin dapat menggantikan pekerjaan administratif dan teknis tertentu. Empati sosial, kebijaksanaan moral, kemampuan memahami kompleksitas manusia, dan kedalaman refleksi tetap menjadi wilayah yang tidak mudah digantikan mesin.
Karena itu, pendidikan masa depan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang siap kerja. Pendidikan perlu melahirkan manusia yang mampu membaca perubahan zaman tanpa kehilangan orientasi etik dan kemanusiaannya.
Kampus memang perlu dekat dengan realitas sosial dan ekonomi. Universitas juga memikul tanggung jawab menjaga horizon pengetahuan yang lebih panjang daripada sekadar kebutuhan pasar hari ini.
Bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh tenaga kerja yang terampil, tetapi juga oleh manusia-manusia yang mampu menjaga arah moral, kebudayaan, dan imajinasi masa depannya. (*)
*) Ahmad Tholabi Kharlie, guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan anggota Dewan Pendidikan Tinggi.